
Pengamat Timur Tengah Prof. DR. Kholid Al Walid, MA di acara Seminar Nasional bertajuk Iran dalam Perspektif Peradaban Islam Dunia” yang digelar di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (7/10) (Foto: Ist)
JAKARTA - Pengamat Timur Tengah, Prof. DR. Kholid Al Walid, MA, mengurai akar kekuatan geopolitik, penguasaan teknologi pertahanan, hingga ketangguhan diplomasi Republik Islam Iran dalam Seminar Nasional bertajuk “Iran dalam Perspektif Peradaban Islam Dunia” di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (7/10).
Menurut Kholid, ketahanan Iran serta kemajuannya di bidang sains termasuk teknologi persenjataan dan rudal berasal dari tradisi keilmuan yang tidak pernah terputus sejak era Persia klasik hingga masa modern.
"Di Iran tidak ada pemisahan antara keilmuan agama dengan sains modern. Mereka menjadikan itu sebagai sesuatu yang satu," kata Kholid Al Walid.
Ia menceritakan keberadaan dua pola pendidikan yang ditempuh para intelektual di sana, yakni pendidikan formalistik (S1 hingga S3) dan pendidikan tradisional hawzah ilmiyyah.
Pola penggabungan ini melahirkan figur ulama yang sekaligus menguasai sains tingkat tinggi.
"Kita tidak heran melihat ada seorang ulama, tapi kemudian yang dikerjakan rudal. Itu bukan satu hal yang asing di sana, karena ada kesatuan antara bangunan keilmuan keagamaan dengan bangunan sains dan teknologi," paparnya.
Pendidikan Gratis dan Penghargaan terhadap Pengajar
Dalam sesi tanya jawab mengenai rahasia kemajuan pendidikan Iran, Kholid membeberkan dua faktor utama, yakni dukungan penuh pemerintah terhadap biaya studi serta jaminan kesejahteraan tenaga pendidik.
"Kuncinya sebenarnya gratis. Mau sampai S3 itu bukan hanya gratis, tapi diberikan biaya. Kalau mahasiswa sampai S3 belum menikah, uang bulannya dikurangi. Tapi kalau dia menikah, akan diberikan double," kata Kholid.
Selain fasilitas bagi mahasiswa, profesi pengajar perguruan tinggi mendapatkan jaminan hidup yang sangat tinggi dari negara agar fokus pada pengembangan ilmu.
"Dosen-dosen di Iran itu sangat terhormat, gajinya sangat besar. Begitu diterima jadi dosen, langsung diberikan apartemen dan setiap tahun harus mengikuti konferensi internasional di luar negeri. Jadi dosennya fokus, tidak boleh ngojek atau mencari penghasilan di luar," ucapnya.
Terkait keunggulan diplomasi politik internasional Iran di kancah global, Kholid merujuk pada hasil riset yang menunjukkan dua pilar utama bangsa Iran, yaitu penguasaan bahasa serta kurikulum penalaran kritis yang ditanamkan sejak dini.
"Pelajaran-pelajaran filsafat di Iran itu dimulai sejak SMP dengan nama rational thinking atau pemikiran kritis," ucapnya.
Budaya berpikir kritis tersebut diterapkan secara ketat di ruang-ruang kelas perguruan tinggi. Kholid membagikan pengalaman pribadinya saat menempuh studi di Iran, ketika seorang pengajar menghentikan perkuliahan karena para mahasiswa tidak memberikan kritik.
"Dosen saya bilang, `Saya tidak mau mengajar Anda lagi. Selama saya mengajar, Anda tidak pernah mengkritik saya. Saya mengajar Anda kalau tidak mendapatkan kritik, ilmu saya tidak berkembang,`" kata Kholid.
Di samping tradisi filsafat, anak-anak sekolah dasar di Iran sudah dibiasakan menghafal ribuan bait puisi karya penyair klasik seperti Jalaluddin Rumi, Sa`di, dan Hafiz Shirazi.
"Anak-anak hafal sampai 5.000 bait syair. Ini membangun struktur kemampuan berbahasa mereka," ucapnya.
Menjawab pertanyaan peserta mengenai sistem ketatanegaraan Iran pasca-Revolusi 1979, Kholid menjelaskan bahwa konsep Wilayatul Faqih lahir dari keputusan rakyat melalui referendum.
"Ketika kemenangan revolusi Iran Februari 1979, Imam Khomeini memerintahkan referendum kepada masyarakatnya, mau dengan konsep pemerintahan modern atau dengan konsep Islam yang disebut Wilayatul Faqih. 99 persen memilih konsep Islam," katanya.
Sistem tersebut menempatkan seorang pemimpin (ulama/mujtahid) berdasarkan kriteria keilmuan dan rekam jejak moral yang ketat.
"Persyaratannya, pertama dia harus seorang mujtahid melalui proses yang panjang. Kedua, tidak ada track record atas keburukan yang pernah dilakukan. Ketiga, memiliki kemampuan kepemimpinan dan ketatanegaraan. Dan keempat, tidak ada kecenderungan pada kehidupan dunia," ujar Kholid.
Selasa, 06/10/2026