
Ilustrasi - Hari Arsitektur Sedunia setiap 5 Oktober (Foto: pinterest)
JAKARTA - Setiap tanggal 5 Oktober, dunia memperingati Hari Arsitektur Sedunia (World Architecture Day).
Peringatan tahunan ini menjadi momentum penting bagi para arsitek, perancang kota, dan masyarakat global untuk menyoroti peran penting arsitektur dalam membentuk kualitas hidup manusia serta lingkungan berkelanjutan.
Hari Arsitektur Sedunia pertama kali dicanangkan pada tahun 1985 oleh International Union of Architects (UIA), yaitu organisasi profesi arsitek global yang didirikan di Lausanne, Swiss, pada tahun 1948.
Pada awal pengesahannya, UIA menetapkan Hari Arsitektur Sedunia diperingati setiap tanggal 1 Juli.
Pemilihan tanggal tersebut disesuaikan dengan tanggal berdirinya organisasi UIA pada tahun 1948.
Peringatan ini ditujukan untuk memberikan apresiasi terhadap karya-karya arsitektur serta kontribusinya terhadap peradaban manusia.
Perubahan tanggal peringatan terjadi pada Majelis Umum UIA ke-20 yang digelar di Barcelona, Spanyol, pada tahun 1996.
Dalam sidang tersebut, UIA memutuskan untuk menggeser jadwal Hari Arsitektur Sedunia dari tanggal 1 Juli menjadi Senin pertama di bulan Oktober.
Keputusan ini diambil agar peringatan Hari Arsitektur Sedunia dapat dirayakan secara berbarengan dengan Hari Habitat Sedunia (World Habitat Day) yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dengan menyelaraskan kedua Peringatan ini, UIA dan PBB menegaskan bahwa pembangunan arsitektur tidak dapat dipisahkan dari isu pemukiman manusia, lingkungan hidup, dan tata kota yang inklusif.
Peringatan Hari Arsitektur Sedunia bukan sekadar merayakan estetika atau keindahan struktur bangunan. Setiap tahunnya, UIA mengusung tema khusus yang berfokus pada tantangan global terkini.
Di era modern, kampanye Hari Arsitektur Sedunia fokus menekankan pentingnya desain bangunan ramah lingkungan (green building), efisiensi energi, adaptasi terhadap perubahan iklim, serta penyediaan ruang publik yang aman dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.