
Ilustrasi - Ayat tentang maulid Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/uhumrea D)
JAKARTA - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan ekspresi rasa syukur dan gembira umat Islam atas hadirnya Sang Penutup Para Nabi.
Dalam tradisi keilmuan Islam, salah satu ayat Al-Qur`an yang kerap dijadikan landasan utama mengenai anjuran menyambut dan bergembira atas kehadiran Rasulullah SAW adalah Surah Yunus ayat 58.
Ayat ini memerintahkan umat manusia untuk bersukacita dan bergembira atas karunia (fadhl) serta rahmat (rahmah) yang diturunkan oleh Allah SWT.
Berikut Ini Bacaan Surah Yunus Ayat 58.
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Qul bifadhlillaahi wa birahmatihii fabidzaalika falyafrahuu huwa khairum mimmaa yajma`uun.
Artinya: Katakanlah (Muhammad), "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan."
Melansir laman NU Online, para ulama memiliki pandangan beragam dalam menjelaskan makna "karunia" dan "rahmat" dalam ayat tersebut.
Sebagian menafsirkan karunia sebagai Islam dan rahmat sebagai Al-Qur’an. Sebagian lainnya memahami karunia sebagai Al-Qur’an, sementara rahmat adalah ketika Allah menjadikan seseorang termasuk golongan ahli Al-Qur’an.
Dalam riwayat lain yang dinukil dari Ibnu Abbas, karunia Allah dimaknai sebagai ilmu, sedangkan rahmat-Nya adalah Nabi Muhammad saw.
Imam Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H) mencatat penjelasan tersebut: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فِي الْآيَةِ، قَالَ: فَضْلُ اللهِ الْعِلْمُ وَرَحْمَتُهُ مُحَمَّدٌ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Artinya, “Dari Ibnu Abbas ra tentang ayat tersebut, ia mengatakan: ‘Karunia Allah adalah ilmu, sedangkan rahmat-Nya adalah Nabi Muhammad saw’.” (Ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, [Beirut: Darul Fikr, 1993 M], jilid IV, halaman 367).
Jika Nabi Muhammad dipahami sebagai salah satu bentuk rahmat Allah kepada manusia, maka bergembira atas kelahiran beliau merupakan bentuk kegembiraan atas rahmat yang sangat besar.
Dari sinilah para ulama kemudian menjelaskan pentingnya menjadikan momentum kelahiran Nabi sebagai kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan amal kebajikan.