Menag Ajak Jaga Lingkungan Lewat Pendekatan Ekoteologi

M.Habib Saifullah | Rabu, 24/12/2025 10:39 WIB


Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar terus menggaungkan ekoteologi sebagai pendekatan agama dalam rangka menciptakan kesadaran lingkungan
  Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar (foto:Tirto)

JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar terus menggaungkan ekoteologi sebagai pendekatan agama dalam rangka menciptakan kesadaran lingkungan.

Dia menekankan bahwa penggunaan bahasa agama dalam merawat alam menjadi kunci krusial dalam mengatasi krisis lingkungan yang saat ini menjadi tantangan global.

"Tanpa bahasa agama, mustahil menciptakan kesadaran lingkungan yang mendalam. Dengan agama, merusak lingkungan itu dosa, memeliharanya adalah pahala," kata Menag dalam Dialog Media bertema `Refleksi Kinerja 2025: dari Kurikulum Cinta Hingga Ekoteologi dan Penanggulangan Bencana` di Jakarta Pusat, Selasa (23/12).

Menag Nasaruddin menilai bahasa agama menjadi pendekatan yang sangat tepat untuk menciptakan kesadaran diri tentang cinta lingkungan. Hal ini bersandar pada dalil agama yang menyebutkan bahwa perbuatan merusak lingkungan merupakan perbuatan dosa.

Baca juga :
Obat Terbatas, Sektor Kesehatan Palestina Berada di Ambang Kehancuran

"Jadi tidak efektif kalau hanya menggunakan bahasa politik, bahasa hukum untuk merawat lingkungan. Jadi harus menggunakan bahasa agama," kata dia.

Baca juga :
Sejak Genosida 2023 Lalu, Lebih dari 9.500 Warga Palestina Dilaporkan Hilang

Adapun pendekatan bahasa agama itu termaktub dalam ekoteologi yang Menag Nasaruddin sebut sebagai upaya teologis untuk mengintegrasikan iman dengan kepedulian lingkungan, sehingga hal ini berimplikasi pada pandangan pelestarian alam sebagai ibadah dan amanah Tuhan.

"Intinya ekoteologi itu adalah teologi kita selama ini terlalu maskulin, akibatnya apa? Penebangan, penghancuran, dan sebagainya. Jadi kita perlu green theology, istilah lain dari ekoteologi," kata Menag Nasaruddin.

Baca juga :
Begini Urutan Perjalanan Manusia Setelah Hari Kiamat

Dengan begitu, kata Menag, perlu upaya demaskulanisasi yang mengedepankan kasih sayang guna mencapai tujuan alam yang lestari. "Tuhan kita maha feminim kok, nabi kita feminim, kitab sucinya semuanya feminim, kenapa umatnya super maskulin?" ujar Menag.

Karena itu, Kemenag akan terus mendorong pendekatan bahasa agama dalam menyikapi persoalan lingkungan dengan bekersa sama antara lembaga dan umat beragama.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Menteri Agama Nasaruddin Umar Ekoteologi