• Bisnis

Bamsoet Dorong Peningkatan Bisnis Pasir Silika Tanah Air

Agus Mughni Muttaqin | Selasa, 31/10/2023 13:57 WIB
Bamsoet Dorong Peningkatan Bisnis Pasir Silika Tanah Air Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) menerima jajaran KCC Glass Corporation, di Jakarta, Selasa (31/10/23). (Foto: Humas MPR)

JAKARTA - Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) menuturkan selain tambang batubara dan nikel, Indonesia juga memiliki potensi besar berupa pasir silika yang menjadi bahan baku utama dalam industri pembuatan kaca.

Data Kementerian ESDM di 2021, Indonesia memiliki potensi sumber daya pasir silika yang besar, mencapai 25 miliar ton dengan jumlah cadangan mencapai 330 juta ton. Tersebar di berbagai daerah seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Sumatra Barat dan Kepulauan Riau.

"KCC Glass Corporation, salah satu perusahaan kaca terbesar asal Korea Selatan, telah berinvestasi membangun pabrik kaca di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah. Diproyeksi menjadi produsen kaca gelas yang memiliki line produksi terbesar di Asia Tenggara. Dibangun di atas lahan mencapai 50 hektare, dengan total investasi mencapai Rp 5 triliun, serta produksi mencapai 438 ton kaca per tahun. Menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 1.200 orang, memberikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah dan Indonesia pada umumnya," ujar Bamsoet usai menerima jajaran KCC Glass Corporation, di Jakarta, Selasa (31/10/23).

Bamsoet menjelaskan, industri kaca lembaran nasional dimulai dengan produksi dan penjualan pada 1976. Kemudian berkembang hingga saat ini dengan kapasitas produksi mencapai 1,35 juta ton/tahun untuk memenuhi permintaan dalam negeri sebanyak 800 ribu ton/tahun.

"Permintaan dalam negeri tersebut berpotensi akan berlipat ganda hingga dua kali lipat. Sejalan dengan berkembangnya permintaan pasar, di antaranya kaca pengaman diperkeras, kaca pengaman berlapis, cermin kaca lembaran dan kaca isolasi baik untuk produk showcase maupun bahan bangunan," ujarnya.

Bamsoet menerangkan, selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, industri kaca nasional dengan ditopang investasi dari luar negeri, juga bisa memenuhi permintaan global. Mengingat permintaan kaca di pasar global terus mengalami peningkatan.

"Menurut data Kementerian Perindustrian, permintaan kaca lembaran dunia tumbuh sekitar 6,6% per tahun. Pada 2018 saja, tercatat sebesar 10 miliar meter persegi atau senilai kurang lebih USD 102 miliar yang diperkirakan 50 persen permintaan dunia ada di wilayah Asia-Pasifik," ujarnya.