Ilustrasi
JAKARTA - Tiga pasangan calon siap berlaga pada Pilpres 2024. Mereka diharapkan menyeriusi isu lingkungan, baik dalam visi-misi maupun praktik kerja di lapangan.
"Lima tahun ke depan penanganan masalah lingkungan akan berat jika konsep dan pelaksanaan tidak sejalan," ujar akademisi lingkungan dari Universitas Warmadewa, Denpasar, Bali, I Nengah Muliarta, yang dihubungi dari Jakarta, Minggu (22/10/2023) malam.
Pilpres tahun depan akan diikuti tiga pasangan calon. Yakni Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, dan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Kandidat Pilpres maupun legislatif, menurut Muliarta, meski memiliki konsep ekologi yang jelas.Setiap kebijakan yang diambil harus memperhatikan aspek lingkungan.
"Salah satu contoh itu adalah tutupan lahan. Secara konsep kita berharap 30% tutupan hutan atau tutupan kawasan. (Namun) kenyataannya, sampai sekarang masih kurang. Nah ini harus diimplementasikan dalam bentuk nyata di lapangan karena selama ini belum kita lihat, " papar Muliata.
Masih berkaitan dengan hutan, pengajar Program Studi Agroteknologi tersebut, menyoroti penerapan konsep ekonomi berkelanjutan. Menurut dia, konsep ini bisa dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, tanpa ada yang terbuang.
"Contoh pengambilan sumber daya di hutan produksi. Ada kecenderungan yang diambil kayu-kayu besar, sedangkan yang kecil-kecil dibuang. Maka banyak sumber daya yang terbuang," jelas Muliarta, sembari menambahkan bahwa kecenderungan tersebut tidak mencerminkan konsep ekonomi berkelanjutan.
Hal penting lain, kandidat capres/cawapres dan caleg harus berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca. Khusus komitmen ini, lanjut Mukiarta, harus dibuktikan dengan konsep dan indikator kerja yang jelas. Kejelasan terkait hal itu akan menjadi dan bahkan menumbuhkan kepercayaan publik.
Problema klasik lingkungan, yakni pengelolaan sampah juga harus mendapat perhatian. Tentang hal ini, menurut Muliarta, antara konsep dan implementasi harus sejalan.
"Jika ada permasalahan jangan selalu menyalahkan masyarakat. Masyarakat diminta memilah sampah, (namun) kenyataannya ketika diangkut sampahnya kembali dicampur," ujar Muliarta.
Pada bagian lain, dia mengharapkan, para calon pemimpin tidak hanya terpaku pada target besar ketika menggulirkan program penanganan lingkungan. Setinggi-tingginya target, menurut Muliarta, harus diikuti dengan indikator pencapaian.
"Selain itu utamakan program-program berkelanjutan, bukan cuma program yang berbasis proyek," kata Muliarta.