Pengungsi internal Palestina beristirahat saat mereka mengungsi di sekolah PBB, di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza selatan pada hari Sabtu (14/10/2023). (FOTO: AFP)
JAKARTA - Badan PBB untuk Pengungsi Palestina mengatakan tempat penampungan mereka di Gaza “tidak aman lagi” karena mereka memperingatkan akan kehabisan air bagi penduduk daerah kantong yang terkepung.
Lebih dari 320 warga Palestina telah terbunuh dalam 24 jam terakhir, termasuk banyak wanita dan anak-anak yang tewas dalam serangan udara Israel terhadap konvoi yang meninggalkan Kota Gaza, menurut pejabat kesehatan.
Meningkatnya jumlah korban jiwa terjadi ketika Israel terus membom Gaza sehari setelah memerintahkan 1,1 juta penduduk untuk menuju ke selatan menjelang serangan darat menyusul serangan Hamas di Israel pekan lalu.
Setidaknya 2.215 warga Palestina tewas dan 8.714 luka-luka dalam serangan udara Israel di Gaza.
Jumlah orang yang terbunuh di Israel telah mencapai 1.300 orang, dan lebih dari 3.400 orang terluka.
Di Tepi Barat yang diduduki, jumlah warga Palestina yang tewas akibat tembakan Israel dalam sepekan terakhir telah mencapai 50 orang. Lebih dari 1.000 orang terluka dan ratusan lainnya ditangkap.
Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan tempat penampungan mereka di Gaza “tidak aman lagi”, dan menyebutnya sebagai hal yang “belum pernah terjadi sebelumnya”.
“Perang punya aturan. Warga sipil, rumah sakit, sekolah, klinik, dan gedung PBB tidak bisa menjadi sasaran,” kata UNWRA dalam sebuah pernyataan.
“Kami melakukan segala upaya untuk melakukan advokasi kepada pihak-pihak yang terlibat konflik guna memenuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional untuk melindungi warga sipil termasuk mereka yang mencari perlindungan di tempat penampungan UNRWA,” tambah badan PBB tersebut.
Presiden Afrika Selatan menjanjikan solidaritas dengan Palestina
Berbicara di sela-sela pertemuan Komite Eksekutif Nasional Kongres Nasional Afrika, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa telah menjanjikan “solidaritas dengan rakyat Palestina.
“Mereka telah berada di bawah pendudukan selama hampir 75 tahun dan orang-orang yang berada di bawah pendudukan yang telah melakukan perjuangan melawan pemerintah yang menindas yang telah menduduki tanah mereka, namun juga pemerintah yang belakangan ini dijuluki sebagai negara apartheid, sebagai rakyat, sebuah organisasi yang telah berjuang melawan sistem apartheid yang menindas, kami menjanjikan solidaritas untuk rakyat Palestina,” katanya kepada wartawan dan menambahkan, “Perjuangan mereka adil”.
Sementara itu kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, kini mengaku bertanggung jawab atas penembakan roket ke sebuah pos militer Israel, seperti yang kami laporkan sebelumnya.
Media militer Hizbullah mengatakan bahwa kelompok tersebut menyerang lima posisi Israel pada pukul 15:15 pada hari Sabtu sore di peternakan Sheba`a, dengan peluru kendali dan mortir.
Pemimpin Hamas Tuduh Israel melakukan kejahatan perang
Ketua Hamas Ismail Haniyeh menuduh Israel melakukan kejahatan perang dan mencegah bantuan kemanusiaan memasuki Gaza.
“Kekejaman Israel merupakan kejahatan perang,” katanya dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang diposting di situs web kelompok Palestina.
Roket ditembakkan ke pos tentara Israel dari Lebanon
Ada laporan tentang roket yang ditembakkan dari Lebanon ke pos militer Israel.
Seorang saksi juga melaporkan penembakan besar-besaran datang dari Israel dan suara tembakan, menurut Reuters.
Rumah Sakit Lapangan Jordan tidak berfungsi karena serangan Israel
Sebuah rumah sakit lapangan di Gaza yang dikelola oleh Yordania tidak dapat lagi menyediakan layanan kesehatan karena serangan Israel dan gangguan akses jalan, menurut media resmi di Yordania.
Didirikan pada tahun 2009 di bawah militer Yordania, Rumah Sakit Lapangan Jordan dulunya memberikan layanan medis gratis kepada sekitar 1.000-1.200 orang setiap hari. (*)