• News

Survei SMRC, Figur Capres Lebih Kuat Dibanding Partai di Pemilih Jawa Barat

| Jum'at, 08/09/2023 14:17 WIB

Survei SMRC, Figur Capres Lebih Kuat Dibanding Partai di Pemilih Jawa Barat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (foto: Tribunnews)

JAKARTA - Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) telah merilsi hasil survei terbarunya. Dalam temuan SMRC, terdapat keunikan bagi pemilih di Jawa Barat.

Pendiri SRMC, Saiful Mujani mengungkapkan ada fenomena unik yang baru saja ia temukan. Saiful mengatakan arah pemilih Jabar cenderung lebih melihat sosok capresnya dibanding partai pengusung.

Hal ini menjadikan pemilih Jabar dalam kontestasi Pilpres 2024 cenderung masih mendukung figur capres yang yang seperti sebelumnya, yakni Prabowo Subianto. Hal ini terbukti dari tingginya hasil survei Prabowo di Jawa Barat.

"Masyarakat Jabar itu tidak mementingkan partainya apa dalam Pilpres, yang terpenting bagi mereka presidennya tetap Pak Prabowo," kata Saiful, Jumat (8/9).

Survei yang diadakan pada periode 31 Juli hingga 11 Agustus 2023 itu menempatkan Prabowo tertinggi di Jabar jika head to head dengan Ganjar Pranowo. Prabowo mendapat 57 persen responden, jumlah itu menjadi sangat signifikan dibanding dengan Ganjar yang hanya mendapat 31 persen.

Padahal, jika dilihat dari partainya, PDI Perjuangan menang dari Gerindra di Jabar. PDIP mendapat 19,3 persen sedangkan Gerindra mendapat 16,8 persen.

Kondisi tersebut membuktikan bahwa pemilih Jabar cenderung tidak peduli dengan partai pengusung dan lebih memperhatikan kandidat capresnya.

"Partainya bisa jadi memilih calon A,“ namun pilihan tetap menjadi hak prerogatif saya, ”kata orang Jawa Barat," jelas Saiful.

Saiful juga mengingat bahwa dalam dua kali Pilpres sebelumnya, Presiden Joko Widodo selalu kalah dari Prabowo di wilayah Jabar. Uniknya, setelah periode pertama, Jokowi tetap saja tidak bisa mendapat suara yang signifikan di Jabar.

“Walaupun Jokowi dalam lima tahun pertama sudah menjalankan pemerintahan dengan program-programnya yang baik, itu tidak membuat pemilih di Jawa Barat berubah sikapnya, tetap saja tidak mau memilih Jokowi,” ujarnya.

Saiful menjelaskan bahwa biasanya kecenderungan pemilih untuk memilih incumbent cukup tinggi. Untuk kasus Jawa Barat, pola umum tersebut tidak terjadi. Jokowi dianggap sukses dengan approval rating (tingkat kepuasan publik pada kinerja) sangat tinggi secara nasional, namun di Jawa Barat tidak. Ini, menurut Saiful, unik.

Pada pemilihan presiden kedua (2019) yang mempertemukan Jokowi dan Prabowo, pemilih Jawa Barat tetap memilih Prabowo, walaupun pada pemilihan sebelumnya (2014) Prabowo kalah secara nasional.

“Mestinya pemilih pindah karena sebelumnya mendukung calon yang kalah. Tapi di Jawa Barat tidak terjadi. Jawa Barat konsisten mendukung Prabowo,” pungkasnya.