Petugas penyelamat dalam operasi penyelamatan di kota yang terendam topan Khanun di Daegu, Korea Selatan, 10 Agustus 2023. Foto: Reuters
JAKARTA - Hujan deras terus mengguyur Korea Selatan dan Utara pada Jumat saat badai tropis Khanun menyapu semenanjung setelah menerjang Jepang. Hal itu membuat Pyongyang waspada terhadap kerusakan akibat banjir.
Badai melemah menjadi depresi tropis saat melintas ke Korea Utara dalam semalam, dan militer serta pejabat partai yang berkuasa dimobilisasi untuk meminimalkan dampaknya terhadap ekonomi negara yang rapuh.
Di beberapa bagian Korea Selatan, curah hujan kumulatif mencapai 400 mm (15,8 inci) sejak Kamis dengan kecepatan angin maksimum 126 km per jam (78 mil per jam), membanjiri desa, sekolah, dan jalan.
Hampir 16.000 orang dievakuasi, tetapi sekitar 60% dari mereka telah kembali ke rumah pada pukul 6 pagi (2155 GMT Kamis), dan sekitar 350 penerbangan dan 450 rute kereta dibatalkan, menurut kementerian dalam negeri.
Satu orang hilang di kota tenggara Daegu setelah jatuh ke sungai dengan kursi roda, dan satu orang lagi dilaporkan tewas di kota yang sama, tetapi kementerian mengatakan tidak ada kasus yang terkait langsung dengan badai tersebut.
37.000 anak muda yang berpartisipasi dalam Jambore Pramuka Dunia, yang pindah dari perkemahan mereka karena kekhawatiran topan pada hari Selasa, dijadwalkan untuk mengakhiri perjalanan mereka dengan konser K-pop pada hari Jumat.
"Kita perlu menyiapkan langkah-langkah untuk memberikan dukungan dengan cepat dan memadai kepada orang-orang yang terkena dampak topan dan dukungan yang cermat untuk meminimalkan ketidaknyamanan bagi warga yang dievakuasi," kata Presiden Yoon Suk Yeol kepada para pejabat, menurut kantornya.
Dengan kurangnya infrastruktur dan penggundulan hutan yang memperburuk risiko banjir, Korea Utara bersiap menghadapi badai, berjuang untuk mencegah kerusakan dan menyelamatkan tanaman.
Rodong Sinmun, corong Partai Buruh yang berkuasa, melaporkan pada hari Jumat bahwa para pejabat diperintahkan untuk menerapkan sistem tanggap darurat bencana sepanjang waktu dan menyusun rencana evakuasi.
Itu menerbitkan foto-foto pejabat dengan jas hujan sedang memeriksa pelabuhan dan sungai serta petani sedang menyiapkan ladang.
"Kita harus melakukan upaya maksimal untuk melindungi lahan pertanian dan tanaman dari dampak topan," kata surat kabar itu.