Di ASEAN Dialogue Partners Exchange Farmer Visit, Indonesia Tegaskan Siap Hadapi El Nino

Agus Mughni Muttaqin | Minggu, 11/06/2023 22:34 WIB

Di ASEAN Dialogue Partners Exchange Farmer Visit, Indonesia Tegaskan Siap Hadapi El Nino Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi saat ASEAN Dialogue Partners Exchange Farmer Visit, di Mercure Hotel Padang, Minggu (11/6/2023). (Foto: Humas Kementan)

PADANG - Saat ASEAN Dialogue Partners Exchange Farmer Visit, di Mercure Hotel Padang, Minggu (11/6/2023), Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan kesiapan Indonesia menghadapi El Nino.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berharap melalui kegiatan ini delegasi dari negara Asean yang hadir dapat berkontribusi pada pembangunan pertanian berkelanjutan di negara masing-masing.

"Dengan belajar dari pengalaman para peserta, kita dapat mengadaptasi dan menerapkan strategi serupa untuk meningkatkan produktivitas dan memastikan ketahanan pangan di negara kita masing-masing," katanya.

Mentan Syahrul mendorong para petani membuat Indonesia menjadi negara paling kuat dalam menghadapi ancaman El Nino maupun krisis global dunia.

“Semua pihak harus bergerak melakukan kolaborasi, adaptasi dan antisipasi terhadap berbagai tantangan yang ada. Termasuk dalam menghadapi cuaca ekstrim El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus mendatang," tegas Mentan Syahrul.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menjelaskan jika El Nino adalah fenomena alam akibat climate change yang eratnya kaitannya dengan peningkatan konsentrasi kenaikan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). El Nino akan sangat berdampak pada produksi pertanian

Dikatakannya, Kementan sendiri telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global. Adapun caranya dengan mempersiapkan sumber daya manusia pertanian (petani dan penyuluh) tentang mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui pelatihan. Salah satu kuncinya adalah petani harus terus dapat berproduksi tanpa mengalami kendala apapun. 

"Kami sudah melakukan identifikasi terhadap berbagai tantangan yang akan dihadapi sehubungan dengan ancaman perubahan iklim, dalam hal ini El Nino yang sudah di depan mata. Langkah mitigasi dan adaptasi tersebut tentu membutuhkan kerja sama lintas negara anggota Asean yang baik agar petani tetap dapat berproduksi dan meningkatkan produktivitasnya," harap Dedi.

Dedi berharap langkah mitigasi dan adaptasi yang telah disiapkan Kementan dapat diimplementasikan dengan baik di lapangan. Sebab, air merupakan faktor produksi penting dalam pertanian.

"40 persen faktor peningkatan produktivitas pertanian itu berasal dari pengairan atau irigasi. Maka keberadaannya sangat vital. Oleh karenanya El Nino ini harus diantisipasi dengan baik, karena sebagian besar sistem pengairan pertanian kita mengandalkan curah hujan," terang Dedi.

Jika air hujan berkurang, maka pertanian akan mengalami penurunan yang signifikan. Secara otomatis, produktivitas pertanian akan terancam.

"Itu sebabnya, Dedi menjelaskan kalau kita paham mengantisipasinya, maka penurunan produktivitas tidak akan terjadi. Tapi kalau kita tidak paham, maka produktivitas pertanian kita akan turun signifikan," tutur Dedi.

Dikatakannya, El Nino membuat curah hujan berkurang signifikan. Maka salah satu upayanya adalah mencari sumber pengairan alternatif, di antaranya adalah pemanfaatan ground water atau air tanah dan air permukaan seperti danau, kolam, sungai dan lain sebagainya.

"Yang harus diingat juga, pemanfaatan air itu harus efisien dan hemat. Sawah itu tak harus tergenang terus. Berarti penggunaan air di lahan pertanian kita harus efisien. Kadang digenangi, kadang dikeringkan. Oksidatif dan reduktif harus seimbang," terang Dedi.

Di sisi lain, tanah yang berada di dekat akar harus relatif dalam kondisi lembab. Tujuannya agar pertanaman kita tetap segar. Oleh karenanya, harus dilakukan konservasi di wilayah tersebut.

"Kami sudah melakukan identifikasi terhadap berbagai tantangan yang akan dihadapi sehubungan dengan ancaman perubahan iklim, dalam hal ini El Nino yang sudah di depan mata. Langkah mitigasi dan adaptasi tersebut tentu membutuhkan kerja sama lintas negara anggota Asean yang baik agar petani tetap dapat berproduksi dan meningkatkan produktivitasnya," harap Dedi.

Alasan Sumbar dipilih sebagai tempat penyelenggaraan ini selain sebagai salah satu agenda Penas XVI Petani Nelayan, juga agar para delegasi dapat mengambil best practise agriculture yang diterapkan di Sumatera Barat.

Pada sesi field trip para delegasi akan diperlihatkan contoh konkrit pengelolaan pertanian di Sumbar khususnya. Semoga hal hal baik dapat dijadikan percontohan sekembalinya peserta ke negara asal," tuturnya.