Ilustrasi Kaligrafi (foto:tafsirAlQuran)
Jakarta - Allah Subhanahu wa ta’ala menunjukan berbagai tanda kemuliaan dan kekuasaanNya melalui berbagai cara. Alam merupakan tanda yang ada di sekitar kita. Sedangkan ayat merupakan tanda yang kita saksikan dalam Al-Qur’an dan kitab suci lainnya yang terjaga keasliannya.
Berdasarkan kitab Qashash al-Anbiya, Ibnu Katsir rahimahullah mengutip cerita dari Wahab ibn Munabbih rahimahullah, bahwa pada saat kelahiran nabi Isa `alaihissalam tampak bintang besar di langit. Raja Persia yang menyaksikan peristiwa ini menjadi pingsan.
Setelah siuman, sang raja bertanya kepada para ahli nujum. Mereka pun menyatakan bahwa pada saat itulah waktunya kelahiran manusia yang sangat agung di muka bumi.
Sang penguasa Persia ini menjadi cemas. Dia sangat mengkhawatirkan kekuasaannya akan runtuh disebabkan kehadiran sosok manusia mulia yang diramalkan ini.
Dalam beberapa riwayat, dituturkan bahwa sang raja segera menyusun rencana untuk membunuh bayi Isa `alaihissalam. Dia mengirim utusan dengan membawa berbagai barang berharga. Semua hadiah ini akan diserahkan kepada putera Maryam. Namun penguasa Persia ini juga mengutus beberapa orang untuk membunuh bayi Isa `alaihissalam.
Tibalah delegasi kerajaan Persia di kediaman ibunda Maryam. Berbagai hadiah mewah tersebut diserahkan. Namun bayi Isa `alaihissalam segera mengingatkan ibunya. Beliau `alaihissalam mengabarkan tujuan sesungguhnya dari para duta Persia ini. Mereka akan membunuh Isa `alaihissalam putra Maryam.
Sang raja tidak menduga rencana tersebut digagalkan bayi Isa `alaihissalam. Dipicu peristiwa ini dan beberapa hal lainnya, maka Maryam memutuskan pergi membawa sang putera tercinta dengan ditemani anak dari pamannya Maryam, yaitu Yusuf an-Najjar. Mereka pergi menuju negeri Mesir.
Mulailah mereka menetap di Mesir, negeri yang dikenal dengan julukan Ain Syam. Berbagai keajaiban dan mukjizat senantiasa muncul pada diri Isa kecil. Hal ini pun diketahui banyak orang.
Dikisahkan suatu hari ada seseorang yang kehilangan harta di dalam rumahnya. Rumah tersebut dihuni oleh orang-orang fakir, lemah dan yang sangat membutuhkan bantuan. Sedangkan dia merupakan seorang pedagang yang biasa berjualan di tempat persinggahan orang-orang.
Kesibukannya berdagang menyebabkan ia harus meninggalkan tempat kediamannya selama beberapa waktu. Kondisi ini menyebabkan dia tidak langsung mengetahui peristiwa tersebut. Juga tidak dapat menduga siapa yang berpotensi mengambil hartanya.
Sang pedagang segera menemui Maryam untuk membantu memperoleh solusi. Isa `alaihissalam lantas menemui salah satu penghuni rumah tersebut. Beliau `alaihissalam menghampiri orang yang buta. Tuna netra itu diminta untuk bangkit dan membawa sebuah kursi.
Orang ini pun mengaitkan kondisi matanya yang tidak sanggup untuk melihat sehingga menolak permintaan yang mustahil tersebut. Selanjutnya, Isa `alaihissalam mengungkap tabir misteri ini. Beliau `alaihissalam menegaskan pernyataannya, bahwa “sang tuna netra” sanggup melakukan permintaannya. Bahkan mampu lebih dari itu. Sebagaimana dia sanggup mengambil harta dari kotak yang ada di rumah sang pedagang beberapa waktu sebelumnya.
Semua orang yang mendengarkan penjelasan Isa `alaihissalam tercengang. Mereka tidak pernah mencurigai “sang tuna netra” sedikitpun. Meringkas kisah, sang pencuri ini pun mengakui perbuatannya. Dia meminta maaf dan mengembalikan barang yang dicurinya.
Semoga Allah ﷻ menjaga kaum muslim dari berbuat zalim maupun dizalimi. (Kontributor : Dicky Dewata)