Ilustrasi (foto:fimela)
Jakarta - Khitan merupakan perintah untuk diamalkan kaum muslim. Masyarakat muslim Indonesia biasa menyebutnya dengan sunat. Ibadah ini begitu dianggap istimewa, bahkan banyak tempat di bumi Nusantara yang mengiringinya dengan selamatan. Masyarakat mengadakan sukuran sunatan sebagai bentuk rasa bersyukur telah mengamalkannya.
Para ulama ahli tafsir mengatakan bahwa Maryam dan nabi Isa `alaihissalam merupakan bagian dari tanda kebesaran Allah ﷻ. Maryam bisa hamil tanpa disentuh oleh seorang laki-laki pun. Sedangkan nabi Isa `alaihissalam dapat berbicara semenjak masih bayi.
Dikisahkan untuk melaksanakan sunah para anbiya’ dan mursalin semenjak nabi Ibrahim `alaihissalam, maka ketika Isa `alaihissalam telah berusia delapan hari, ibunya membawanya ke Haikal (tempat ibadah bani Israil) untuk dikhitan dan memberi beliau `alaihissalam nama Yasu’. Yaitu nama lain dari Isa `alaihissalam, seperti Yesyu`, Yesyua`, Y`syua`, juga Yesus.
Selanjutnya, Isa kecil dibesarkan ibunya di daerah yang jauh dari Bait al-Lahm (Bethlehem). Di suatu tempat dataran tinggi (al rabwah) yang aman dan nyaman. Allah berfirman mengabarkan tentang ini dalam surah (ke-23) Al-Mu’minun ayat 50,
"Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam bersama ibunya sebagai suatu bukti yang nyata (bagi kebesaran Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu dataran tinggi, (tempat yang tenang, rindang, dan banyak buah-buahan) dengan mata air yang mengalir."
Ibnu Asakir dan beberapa ulama tafsir lainnya rahimakumullah berpendapat bahwa tempat yang tinggi atau al-Rabwah ini adalah Damaskus. Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan al-Hasan rahimahullah. Namun ada pula kalangan mufassir yang berpendapat tempat yang dimaksud adalah Baitul Maqdis atau Al Ramllah di Palestina.
Sedangkan yang lainnya berpendapat di Mesir. Pendapat terakhir ini seperti yang disebutkan dalam Injil Matius dan Injil Barnabas. Dituturkan bahwasanya raja Herodus mengeluarkan perintah untuk membunuh setiap anak laki-laki di Bait al-Lahm. Maka Allah ﷻ perintahkan Yusuf al Najjar dalam mimpinya untuk membawa Isa kecil dan ibunya ke Mesir.
Anak dari paman Maryam inipun melaksanakannya sesuai ilham melalui mimpinya itu. Maka Maryam binti Imran dan puteranya tinggal di Mesir hingga raja Herodus yang zalim itu mangkat.
Selanjutnya putera mahkota resmi meneruskan tahta kerajaan menggantikan ayahnya. Yusuf al Najjar bermimpi kembali. Beliau mendapat ilham untuk membawa kedua ahlul bait Imran tersebut (Isa kecil dan Maryam) pulang kembali ke negerinya.
Mereka pulang dan memilih tinggal di Al-Nushrah (disebut juga Nashirah atau Nazareth). Di tempat inilah nabi Isa `alaihissalam mendapati masyarakat sekitar yang relatif lebih baik. Dari tempat tinggal nabi Isa `alaihissalam ini pula dinisbahkan al-Nashara (Nasrani).
Semoga sekelumit kisah ini dapat meningkatkan keimanan kita. (Kontributor : Dicky Dewata)