• Oase

Pentingnya Akidah Agar Tidak Gagal Paham

| Kamis, 04/05/2023 15:01 WIB

Pentingnya Akidah Agar Tidak Gagal Paham Ilustrasi berdoa (foto:umroh)

Jakarta - Akidah yang lurus mampu mengantar semua hamba untuk beribadah dan mengimani Sang Pencipta dengan benar. Namun ada saja orang yang terjerumus dalam kesalahan berakidah dengan mengatakan semua agama adalah sama, atau menyatakan seorang hamba yang salih dan taat sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta`ala. Sebagaimana kisah berikut ini.

Nama Uzair `alaihissalam disebutkan dalam Al-Qur’an ketika Allah Subhanahu wa Ta`ala menceritakan pernyataan orang Yahudi yang mengatakan bahwa Uzair `alaihissalam anak Allah; Maha Suci Allah dari perkataan mereka.

Nabi yang diutus kepada bani Israil ini memang dulunya adalah seorang penghafal Taurat. Nabi yang dihidupkan kembali setelah diwafatkan selama 100 tahun ini meminta kepada Allah ﷻ agar hafalan Tauratnya dikokohkan. Allâh Azza wa Jalla mengabulkan permohonannya dan meneguhkan hapalannya.

Beliau `alaihissalam menjadi satu-satunya orang yang hafal Taurat di kalangan bani Israil pada masa itu. Kemudian ditulislah Taurat dengan hafalan nabi Uzair `alaihissalam. Setelah itu terjadi pembandingan hapalan beliau `alaihissalam dengan kitab Taurat. Ternyata, hapalan nabi yang berasal dari keturunan Lawi ini sama persis dengan yang terdapat pada Taurat.

Nabi yang juga disebut Izra oleh orang Yahudi ini dianggap pahlawan karena menulis salinan kitab Taurat, kemudian mengajarkan dan membimbing bani Israil dengan Taurat tersebut.

Jasa nabi yang hidup sebelum kelahiran nabi Isa `alahissalam ini sebagai penyair syariat Taurat yang terkemuka, bahkan mampu menghidupkan syariat itu kembali sesudah sekian lama dilupakan orang. Sehingga selama masa hidupnya dianggap sebagai masa kesuburan agama Yahudi.

Dengan berlalunya waktu, sebagian orang awam Yahudi kagum dengan kisah nabi Uzair `alaihissalam. Mereka heran bahwa beliau `alaihissalam dihidupkan setelah wafat selama 100 tahun dan memiliki kemampuan menghafal seluruh isi Taurat tanpa ada kesalahan. Kemudian membandingkan dengan kemampuan nabi Musa `alaihissalam. Nabi yang membebaskan bani Israil dari perbudakan Fir’aun tersebut hanya diberikan Taurat yang telah ditulis dalam sebuah kitab dan mengajarkannya.

Dilatar belakangi hal tersebut, mereka yang fanatik pun berpikir ini tidak mungkin terjadi jika Uzair `alaihissalam hanyalah sekedar seorang nabi. Oleh sebab itu, mereka lancang mengatakan bahwa Uzair `alaihissalam adalah anak Allah ﷻ.

Sebenarnya hanya sebagian aliran Yahudi saja yang mengimani seperti itu. Akan tetapi, bani Israil lainnya berdiam diri. Tidak berusaha memperbaikinya dan tidak mengingkari akidah yang keliru tersebut. Sehingga Allah ﷻ mengabarkan seolah-olah ini adalah akidah Yahudi. Allah Azza wa Jalla memutlakkan mereka dalam rangkaian kesalahan tersebut.

Al-Qur`an mengisahkan sikap orang-orang Yahudi yang melampaui batas tersebut dalam surah (ke-9) At-Taubah ayat 30,"Dan orang-orang Yahudi berkata, "Uzair putra Allah," dan orang-orang Nasrani berkata, "Al-Masih putra Allah." Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?"

Demikian itulah ucapan mereka yang meniru kekufuran dari perkataan orang-orang kafir yang terdahulu, yaitu para orang tua dan nenek moyang mereka. Anggapan berlebihan hingga berpaling dari kebenaran. Orang-orang Yahudi ini pun mendapat laknat dari Allah Azza wa Jalla.

Semoga Allah ﷻ memberi hidayah kepada kita semua di atas agama yang benar. (Kontributor : Dicky Dewata)

Keywords :


Muslim Islam
.
Akidah