Mengharukan, 54 Hari Terpisah, Bayi yang Selamat dari Gempa Turki Bersatu dengan Sang Ibu. (FOTO: Turkish Ministry of Family and Social Services handout)
JAKARTA - Peristiwa mengharukan terjadi pasca-gempa Turki-Suriah. Seorang bayi yang selamat dari reruntuhan gempa di Turki akhirnya bertemu dengan sang ibu setelah terpisah selama 54 hari.
Seorang bayi di Turki – yang terperangkap selama 128 jam di reruntuhan gempa dahsyat negara itu pada bulan Februari – telah dipersatukan kembali dengan ibunya yang sebelumnya dinyatakan meninggal.
Hal itu diungkap Kementerian Keluarga dan Layanan Sosial Turki.
Vetin Begdas yang berusia tiga setengah bulan bersatu kembali dengan Yasemin Begdas (54), Sabtu (1/4/2023).
Sang bayi dipertemukan 54 hari setelah dia diselamatkan dari sebuah bangunan yang rusak di provinsi Hatay, lapor Anadolu Agency
Dia diberi nama Gizem (Misteri) oleh otoritas medis yang merawatnya setelah dia diselamatkan.
Menteri Keluarga dan Layanan Sosial negara Derya Yanik membantu pasangan itu bersatu kembali setelah hubungan mereka dibuktikan melalui tes DNA.
“Salah satu tugas paling tak ternilai di dunia adalah menyatukan kembali seorang ibu dengan anaknya,” kata Yanik.
“Menjadi bagian dari kebahagiaan itu juga sangat berarti bagi kami.”
Menteri membagikan video reuni yang mengharukan itu lewat tweetnya, di mana pasangan itu terlihat berpelukan di ranjang rumah sakit di Adana di mana Yasemin Begdas menerima perawatan.
Bayinya diterbangkan dari Ankara, di mana dia juga menerima perawatan medis.
“Vetin sekarang juga bayi kita,” kata menteri, menambahkan bahwa bayi itu akan selalu mendapat dukungan kementerian.
Bayi "Misteri" telah mencengkeram hati banyak orang, foto-foto penyelamatannya beredar di media sosial bersama dengan bayi dan balita lain yang diselamatkan pada hari-hari awal upaya penyelamatan gempa.
“Bayi itu benar-benar keajaiban. Fakta bahwa dia selamat dan tidak memiliki masalah kesehatan menarik hati sanubari kami,” kata Yanik.
Menurut Anadolu, ayah bayi dan dua saudara laki-lakinya tewas dalam gempa yang menewaskan lebih dari 50.000 orang itu.
Di Turki saja, lebih dari 44.000 orang tewas, Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat (AFAD) negara itu melaporkan pada akhir Februari. Selain itu, lebih dari 20 juta orang masih terkena dampak bencana. (*)