Relawan dan petugas pemadam kebakaran bekerja mencari korban di salah satu lokasi tanah longsor Sao Sebastiao, Brasil, 21 Februari 2023. Foto: Reuters
JAKARTA - Korban tewas akibat hujan lebat yang menghancurkan wilayah pesisir negara bagian Sao Paulo tenggara Brasil mencapai 48 orang, angka resmi menunjukkan pada hari Rabu, namun puluhan orang masih hilang saat upaya pencarian dan penyelamatan berlanjut.
"Kami sedang bekerja dengan penghitungan sedikitnya 38 orang hilang," Gubernur Sao Paulo Tarcisio de Freitas mengatakan kepada wartawan ketika peramal cuaca memperingatkan lebih banyak hujan diperkirakan akan turun pada hari itu.
Hujan deras telah menyebabkan tanah longsor dan banjir sejak akhir pekan lalu di kota-kota pesisir negara bagian terkaya Brasil, sejauh ini dilanda lebih dari 600 milimeter (23,6 inci) hujan, angka kumulatif tertinggi yang pernah ada di negara itu.
Jumlah korban meningkat dari 46 yang dilaporkan sehari sebelumnya, kata pemerintah negara bagian Sao Paulo dalam sebuah pernyataan.
Kota Sao Sebastiao, yang terletak sekitar 200 km (124,3 mil) dari Sao Paulo, menanggung beban korban jiwa terbesar, dengan 47 kematian yang dilaporkan. Tetapi kota-kota terdekat seperti Ilhabela, Caraguatatuba, Bertioga dan Ubatuba juga sangat terpengaruh.
Pemerintah negara bagian mengatakan lebih banyak hujan diperkirakan pada hari Rabu karena front dingin baru mendukung pembentukan awan tebal di wilayah tersebut, dengan "hujan sedang hingga lebat" diperkirakan akan turun hingga sore hari, setelah pagi yang mendung.
Jalan-jalan utama seperti jalan raya Mogi-Bertioga dan Rio-Santos tetap tertutup akibat tanah longsor, tambah pemerintah, sementara perusahaan air milik negara Sabesp (SBSP3.SA) berhasil memulihkan pasokan air ke wilayah tersebut.
Banjir di pesisir negara bagian Sao Paulo adalah yang terbaru dari serangkaian bencana yang baru-baru ini melanda Brasil, di mana konstruksi yang buruk, seringkali di lereng bukit, dapat menimbulkan akibat yang tragis selama musim hujan di negara itu.
Banjir besar terjadi saat turis memadati pantai setempat selama liburan Karnaval tahunan, kemungkinan besar membuat jumlah korban manusia jauh lebih buruk.