Ilustrasi: bola dunia di depan bendera China dan Taiwan, 6 Agustus 2022. Foto: Reuters
JAKARTA - Militer China melakukan "latihan serangan" di laut dan wilayah udara di sekitar Taiwan pada hari Minggu sebagai tanggapan atas "provokasi" dari pulau yang diperintah secara demokratis dan Amerika Serikat, yang tidak dijelaskan bentuk provokasinya.
Taiwan, yang diklaim China sebagai wilayahnya sendiri, telah mengeluhkan aktivitas militer China berulang kali di dekatnya selama sekitar tiga tahun terakhir karena Beijing berusaha menekan Taipei untuk menerima kedaulatan China.
China menggelar latihan perang di sekitar Taiwan pada Agustus setelah kunjungan ke Taipei oleh A.S. Ketua DPR Nancy Pelosi. China juga mengecam Amerika Serikat atas undang-undang otorisasi pertahanan baru yang meningkatkan bantuan militer untuk Taiwan.
Dalam sebuah pernyataan singkat, Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat China mengatakan telah melakukan "patroli kesiapan tempur bersama dan latihan serangan senjata bersama" di sekitar Taiwan, meskipun tidak menyebutkan lokasi pastinya.
"Ini adalah tanggapan tegas terhadap eskalasi kolusi dan provokasi dari Amerika Serikat dan Taiwan saat ini," tambahnya, tanpa memberikan rincian. "Pasukan teater akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk secara tegas mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas teritorial."
Kementerian pertahanan Taiwan menolak berkomentar.
Kementerian menerbitkan laporan harian pada pukul 9 pagi (0100 GMT) tentang aktivitas militer China di dekat pulau itu selama 24 jam sebelumnya.
Amerika Serikat adalah pendukung dan pemasok senjata internasional terpenting Taiwan, meskipun tidak ada hubungan diplomatik formal. Penjualan senjata AS ke Taiwan selalu mengganggu hubungan Beijing dengan Washington.
Militer Taiwan dikerdilkan oleh tetangganya yang besar, China. Angkatan udaranya khususnya telah berada di bawah tekanan karena harus berebut berulang kali untuk mengalahkan serangan China di dekat pulau itu selama sekitar tiga tahun terakhir.
Latihan Cina bertepatan dengan walikota dan kepala daerah yang baru terpilih di Taiwan mengambil posisi mereka setelah pemilihan lokal di pulau itu bulan lalu, di mana Partai Progresif Demokratik yang berkuasa dikalahkan.
China tidak pernah berhenti menggunakan kekuatan untuk membawa Taiwan di bawah kendalinya. Taiwan sangat membantah klaim kedaulatan China, dengan mengatakan hanya 23 juta penduduk pulau itu yang dapat memutuskan masa depan mereka.