Menteri Luar Negeri Turkiye Mevlut Cavusoglu. (Foto file - Anadolu Agency)
Turkiye - Menteri Luar Negeri Turkiye Mevlut Cavusoglu menyebut Turkiye mengharapkan dua calon anggota NATO, Swedia dan Finlandia, mengambil langkah konkret dan ‘bukan hanya dengan kata-kata manis saja’ dalam mengatasi masalah keamanan Ankara.
"Karena tidak ada lagi yang bisa dikatakan tentang tuntutan Turkiye, `langkah konkret harus diambil mulai sekarang," kata menlu Turkiye, Selasa (20/12)
Langkah konkret yang dimaksud Cavusoglu merujuk pada keinginan Ankara untuk mengekstradisi para tersangka teroris.
Berbicara pada konferensi pers bersama sejawatnya dari Gambia Mamadou Tangara, Cavusoglu mengatakan karena tidak ada lagi yang bisa dikatakan terkait tuntutan Turkiye, "langkah-langkah konkret harus diambil mulai sekarang," mengacu pada ekstradisi para tersangka teroris, pembekuan aset-aset teroris, dan mengakhiri dukungan kepada kelompok teroris. dilansir AA
Penolakan Swedia untuk mengekstradisi tersangka teroris – Bulent Kenes – ke Turkiye adalah “perkembangan yang sangat negatif,” kata Cavusoglu.
Pengadilan tinggi Swedia pada Senin menolak permintaan Turkiye untuk ekstradisi Kenes, buronan kelompok teroris yang diduga tinggal di tanah Swedia, dengan mengatakan bahwa karena dia belum dijatuhi hukuman satu tahun lebih di penjara, dia tidak memenuhi syarat untuk ekstradisi.
Kenes, mantan pemimpin redaksi harian Today`s Zaman dan tersangka anggota Organisasi Teroris Fetullah (FETO), tinggal di Swedia.
Dalam kudeta 2016 yang dikalahkan yang diatur oleh FETO dan pemimpinnya yang berbasis di Amerika Serikat (AS) Fetullah Gulen, 251 orang tewas dan 2.734 terluka.
Turkiye, Finlandia, dan Swedia menandatangani memorandum bulan Juni ini tentang tawaran negara-negara Nordik untuk menjadi anggota NATO.
Memorandum tersebut mengharuskan Finlandia dan Swedia untuk mengambil langkah-langkah terkait masalah terorisme di Turkiye, termasuk ekstradisi tersangka teror, dan mencabut embargo senjata.
Sebagai imbalannya, Turkiye akan mengizinkan negara-negara Nordik tersebut menjadi anggota NATO.
Namun, Ankara menuduh Finlandia dan Swedia tidak mematuhi kesepakatan itu, karena kedua negara sejauh ini gagal mengekstradisi teroris yang dicari oleh Ankara.