Lubarto Sartoyo (kiri) bersama anaknya Mattis Sartoyo usai memakamkan abu bapaknya, Sartoyo, di Desa Sokanegara, Purwokerto, Jawa Tengah. Foto: Dok. Katakini.com
JAKARTA - Lubarto (52) tidak bisa menahan air matanya, ketika dia bertemu dengan saudara-saudara sepupu dan keponakannya di Desa Sokanegara, Purwokerto, Selasa 26 Oktober lalu.
Demikian kisah Dubes RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus 2016-2020, M. Wahid Supriyadi yang diterima katakini.com di Jakarta, Sabtu (29/10/2022).
Setelah 52 tahun, inilah untuk pertama kalinya Lubarto menginjakkan kaki di tanah leluhurnya. Bapaknya, Sartoyo, adalah mahasiswa ikatan dinas yang dikirim oleh Presiden Sukarno tahun 1962 untuk belajar di bidang Ilmu Hukum. Sartoyo selalu mengatakan padanya bahwa “Kamu wong Jowo dan tanah leluhurmu Indonesia”.
Bahkan Sartoyo senior mengajarkan Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia sekaligus, walaupun akhirnya Lubarto banyak lupa karena dari lahir sampai umur 52 tahun lingkungannya berbahasa Rusia.
“Dia pun sempat ragu apakah dia bisa pulang kampung ke tanah kelahiran orang tuanya,” kata Wahid.
Lubarto mengaku mulai kembali merasa sebagai orang Indonesia setelah menyaksikan Festival Indonesia yang diselengarakan 4 kali berturut-turut sejak 2016 oleh KBRI Moskow. Di situ dia ikut membaur dengan orang-orang Indonesia dan menyaksikan betapa beranekaragamnya Indonesia dengan seni budaya yang sangat mengagumkan. Sebelumnya dia mengaku jarang KBRI Moskow. Sejak itu Lubarto bertekad bulat untuk pergi ke Indonesia mencari sanak suadaranya.
Wahid bercerita, minggu pertama April 2016 atau seminggu setelah kedatangannya di Moskow, KBRI Moskow mengundang warganegara RI yang tingal di Moskow dan para Indonesianis untuk acara perkenalan dengan saya sebagai Duta Besar baru. Tiba-tiba ada seorang yang sudah cukup senior memakai kursi roda menegur.
“Saya dengar Pak Dubes dari Kebumen?” kata Wahid menirukan pertanyaan seseorang yang kemudian diketahui bernama Sartoyo.
Sartoyo adalah seorang ahli hukum dan mengajar di sebuah universitas di Moskow.
“Belum sempat saya menjawab, beliau langsung berkata: ‘Nyong seneng Pak Dubes sekang Kebumen, nyong bisa ngomong ngapak maning’ (Saya senang Pak Dubes berasal dari Kebumen, sehingga saya bisa bisa bicara lagi dengan dialek Banyumasan atau ngapak),” ujar Wahid.
Sartoyo meninggal Februari 2017, dan belum sempat pulang ke Indonesia sejak menginjakkan kakinya di Rusia tahun 1962.
Sebelum pulang ke Indonesia, Wahid menyempatkan diri bertemu secara khusus dengan Lubarto di sebuah restoran Korea Hite di daerah Dobrinskaya, masih di balangan pusat kotaMoskow. Wahid sampaikan bahwa Lubarto adalah orang yang tepat untuk menjembatani Rusia-Indonesia. Selain memiliki ayah asli orang Indonesia, Lubarto yang juga pemegang gelar MBA dan Sarjana Ilmu Politik, terakhir aktif dalam kegiatan ekpor-impor yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota Moskow.
“Saya berjanji, kalau dia ke Indonesia, saya akan menemaninya menemukan keluarganya di Purwokerto dan mempertemukannya dengan Bupati Banyumas.”
Momen yang tepat untuk datang ke Indonesia adalah menghadiri ajang pameran terbesar di Indonesia, Trade Ekspo Indonesia. Karena pandemi, Lubarto baru bisa datang ke Indonesia Oktober tahun ini dan dia membawa anak laki-lakinya bernama Mattis Sartoyo, 24 tahun.
Tanggal 26 Oktober, Wahid memenuhi janjinya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 7 jam dengan mobil, sampailah ia dan Lubarto di Purwokerto. Berkat bantuan Eka Sukawati, mahasiswa asal Purwokerto yang baru saja menamatkan S2 di Northen Arctic University di Arkhangelsk, salah satu kota paling utara dengan suhu minus 40 derajat Celsius, Lubarto akhirnya bertemu dengan sudara-saudara dekatnya di Desa Sokanegara. Tangis bahagia pun pecah di antara mereka.
Yuni, salah satu kerabat Lubarto (keponakan) bercerita bagaimana dia mulai mencari pamannya di Rusia setelah puluhan tahun putus hubungan. Berkat Facebook, dia mendapatkan kumpulan orang-orang Indonesia di Moskow ,dan akhirnya bisa berkomunikasi dengan Pak Sartoyo.
Sartoyo meninggal tahun 2017, komunikasi dilanjutkan dengan Lubarto. Sayangnya Lubarto sudah tidak bisa berbahasa Indonesia, dan Bahasa Inggrisnya pun cukup terbatas. Untungah berkat Google Translate mereka dapat berkomukasi dengan lancar.
Bertemu Bupati Banyumas
Wahid mengaku tidak kenal dengan Bupati Banyumas Ir. Achmad Husein.Tapi sayang jika Lubarto, Putra Banyumas ini tidak diterima. Beruntung ada Titik Wahyuningsih, dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto, adik kelas Wahid di UGM, dan Yusuf Bawor, teman facebooknya yang kebetulan kenal pribadi Bupati Banyumas itu.
Dari merekalah akhirnya Lubarto dan keluarganya ditemui Bupati di Kantor Bupati Banyumas. Inilah “the power of social media”. Jika digunakan dengan baik, hasilnya pun baik.
Bupati Banyumas segera memanggi Asisten Ekonomi, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian untuk rapat mendadak. Intinya Bupati Banyumas ingin memanfaatkan Sartoyo/" style="text-decoration:none;color:#228239;font-weight: 700;">Lubarto Sartoyo agar produk-produk Banyumas bisa masuk pasar Rusia. Sejauh ini Banyumas telah mengekspor gula semut ke Rusia berkat partisipasi salah satu UMKM Banyumas dalam Festival Indonesia Moskow.
Bupati bahkan memerintahkan jajarannya untuk kemungkinan Banyumas mengirim misi bisnisnya pada Ekspo Makanan terbesar di Moskow Februari 2023. Lubarto bersedia untuk membantu dari sisi Rusia.
Universitas Muhammadiyah Purwokerto pun memanfaatkan kedatangan Lubarto untuk merintis kembali kerjasama antaruniversitas dengan Rusia, khususnya di bidang pertanian, IT dan bisnis. Wakil Rektor I, Ir.Arman Suyadi, MP pun langsung memimpin pertemuan didampingi Dekan dan dosen senior terkait.
Minum Air Kelapa Segar Pertama Kali
Saat menuju Purwokerto, pohon kelapa yang tumbuh di sepanjang jalan sangat menarik perhatian Lubarto. Hal ini wajar, karena pohon ini tdak tumbuh di Rusia, namun produk kemasan air kelapa sangat populer dan harganya sangat mahal. Sayangnya produk-produk ini bukan dari Indonesia, melainkan dari Vietnam, Thailand, dan Filipina.
“Ketika saya tawarkan untuk minum air kelapa muda segar sambil makan siang, mukanya langsung ceria. Saya pun memutuskan untuk mencari restoran langganan saya belasan tahun lalu, ketika saya pulangpergi Jakarta-Kebumen-Yogyakarta melalui jalur selatan, sebelum terkoneksinya jalan toll Jakarta-Surabaya. Didaerah Prupuk ada Restoran Sukasari yang menawarkan sate Tegal, togseng, gulai,opor ayam dll. Di situ juga dijual kelapa muda. Pas, pikirsaya,” cerita Wahid.
Di situlah Wahid melihat Lubarto dan anaknya menikmati air kelapa muda segar untuk pertama kalinya. “This is different from what I had in Moscow, very delicious and authentic”, kata Lubarto.
Lubarto dan anaknya pun menghabiskan sate, tongseng dan opor ayam yang dipesan. Semua habis tanpa sisa.
Bagi orang yang pernah ke Rusia, makanan Rusia umumnya hambar atau anyeb (Jawa). “Nasi goreng, mie goreng dan sate sudah mulai populer di Rusia berkat Festival Indonesia,” ujar Wahid.
Setelah Purwokerto, Lubarto dan anaknya akan berkunjung ke Yogyakarta, mengikuti rangkaian acara B-20 di Bali dan masih ingin berkunjung ke daerah lain di Indonesia.
“Selamat datang ke Indonesia Lubarto. Spasibo Bolshoi,” tutup Wahid.