• Bisnis

Tips dan Trik Investasi Reksadana Saham, Berikut Strateginya

Nitro Luindimar | Rabu, 20/07/2022 14:30 WIB
Tips dan Trik Investasi Reksadana Saham, Berikut Strateginya Tips dan Trik Investasi Reksadana Saham, Berikut Strateginya. FOTO: SHUTTERSTOCK)

JAKARTA - Bagi smart investor dengan profil risiko tinggi, reksadana saham bisa dipertimbangkan untuk rencana investasi jangka panjang atau setidaknya di atas 5 tahun.

Seperti apa baiknya strategi investasi reksadana saham?

Dikutip dari Bareksa, Ganesha Wahyu, Digital Business Manager Reksadana Manulife Aset Manajemen Indonesia mengatakan sebelum memilih jenis serta produk reksadana yang ingin dipilih, ada baiknya smart investor mengetahui lebih dahulu tujuan investasi berikut rencana lamanya berinvestasi.

Misalnya, ia mencontohkan tujuan investasi untuk mengumpulkan dana pensiun.

"Agar reksadana saham maksimal dan optimal untuk tujuan investasi diprioritaskan jangka panjang 5 hingga 10 tahun dan sesuai dengan profil risiko," kata Ganesha dalam Bareksa Talk, Strategi Cari Cuam Reksadana Saham, pada Rabu pekan lalu.

Lalu bagaimana cara memilih reksadana saham yang bagus?

Ia mengatakan caranya antara lain bisa dilihat dari dana kelolaan reksadana saham manajer investasi yang menerbitkan.

"Kalau sudah besar (dana kelolaan, red) tentu banyak investor yang percaya dan melihat perusahaan kredibel atau tidak, track record," lanjut Ganesha.

Terkait penjelasan Ganesha, Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report June 2022 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa Manulife AM atau MAMI, tercatat bertahan pada puncak daftar manajer investasi dengan dana kelolaan reksadana saham terbesar.

Dana kelolaan reksadana saham Manulife AM tercatat Rp22,01 triliun per akhir Juni 2022, dan menguasai pangsa pasar reksadana saham 16 persen.

Kelolaan reksadana saham Manulife AM mengalami pertumbuhan 2 persen secara MOM dan 13 persen secara tahunan/YOY.

Untuk cara berinvestasi reksadana saham, Ganesha mengatakan lebih baik melakukan dollar cost averaging (DCA).

"Daripada capek buy and sell, mending kita DCA. Tiap periode kita beli, dicicil dan diakumulasi, manfaatkan momentum koreksi, mulai masuk akumulasi sehingga tujuan jangka panjang lebih optimal," jelasnya.

Adapun Dollar Cost Averaging adalah upaya untuk membagi transaksi investasi dengan memasukkan jumlah dana yang sama dalam nilai mata uang (dolar atau rupiah) dalam rentang waktu tertentu sehingga didapatkan biaya secara rata-rata.

Dengan kata lain, menggunakan metode Dollar Cost Averaging, investor melakukan investasi secara rutin dengan nilai yang sama, misalnya setiap bulan senilai Rp1 juta.

Strategi berinvestasi Dollar Cost Averaging disebut-sebut sering dilakukan oleh multi-miliuner dunia seperti Warren Buffett.

Makanya, strategi ini sepertinya sangat layak untuk dipelajari dan diaplikasikan bagi kita yang ingin berinvestasi reksadana sesuai dengan dana yang dimiliki dan di waktu yang tepat.

Ganesha mengatakan apapun instrumen investasi yang dipilih berikut cara berinvestasinya, kembali ada baiknya disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi.

Selain itu, ia berpesan, investor jangan lupa melakukan diversifikasi investasi. (*)

 

FOLLOW US