Anak berolahraga. (FOTO: SHUTTERSTOCK)
JAKARTA - Olahraga untuk anak seharusnya adalah sebuah kesenangan. Bukan ambisi orangtua memaksa anak agar jago berolahraga dan mendulang prestasi sebanyak mungkin.
Memaksa anak untuk jago olahraga tertentu bisa membuat anak tertekan dan berpengaruh pada psikologisnya.
Olahraga untuk anak seharusnya bukan diukur dari prestasi yang tinggi, tapi seberapa besar anak menyukai kegiatannya.
Bukan hanya satu-dua orangtua yang memiliki ambisi kemenangan lebih besar daripada anaknya sendiri.
Banyak di antara orangtua yang cenderung menekan dan memaksa anaknya untuk berprestasi dalam olahraga.
Kebahagiaan anak dalam berolahraga tidak sama dengan ego orangtua olahraga untuk anak.
Tujuan anak berolahraga bisa untuk banyak hal, untuk kebugaran, bersenang-senang, membangun adrenalin, bersosialisasi, dan tentu bisa juga untuk tujuan prestasi.
Menurut psikolog anak Sani Hermawan, apapun tujuannya, kegiatan olahraga itu selalu memiliki manfaat positif. Manfaat utama bagi anak adalah kebugaran dan kesenangan.
Saat orangtua mamaksa, lalu anak merasa tertekan, itu artinya olahraga untuk anak sudah kehilangan tugas utamanya.
Disadari atau tidak, orangtua sering mendaftarkan anaknya ke klub olahraga dengan ambisi anaknya juara. Ia menginginkan timbal balik lebih dari sekadar melihat anaknya bertanding dan bersenang-senang.
Beberapa mengharapkan uang yang mereka keluarkan terbayarkan dengan prestasi olahraga yang dapat membawa anaknya masuk ke sekolah unggulan, mendapatkan beasiswa, atau bahkan kontrak profesional.
Sifat ini bisa jadi untuk memenuhi kegagalan orangtuanya yang pernah berkeinginan untuk menjadi atlet.
Psikolog Amerika, Dr. Frank Smoll, menyebutnya sebagai frustrated jock syndrome atau sindrom atlet yang frustasi.
“Di situlah orang tua mencoba mewujudkan keinginannya menjadi atlet melalui anak-anak mereka,” jelas dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Michael Triangto Sp. KO, kepada Hello Sehat.
Saat kemampuan anak tidak sesuai dengan ekspektasi, orang tua akan kesal dan mulai memaksakan kehendak dengan berbagai cara mulai dari memarahi, menghukum, hingga memberi latihan tambahan.
Kepala pelatih di sekolah sepak bola ASIOP, Jakarta, Apridiawan mengatakan, tekanan dari orang tua justru membuat anak takut dan tidak menikmati permainan.
“Bertanding dengan tekanan untuk bermain bagus dari orang tuanya itu akan berpengaruh ke mental anak di lapangan. Satu kesalahan saja bisa membuatnya tidak bisa melanjutkan pertandingan,” jelas Apri.
“Dalam kegiatan olahraga anak, tugas orang tua itu hanya memotivasi bukan menuntut. Ada perbedaan yang sangat besar di sana. Menuntut artinya ada urusan ambisi orang tua yang harus diselesaikan antara orang tua dengan si anak,” tuturnya.
Jangan sampai olahraga permainan yang seharusnya menjadi tempat anak bersenang-senang malah jadi alasan mereka menangis.
Bagaimana seharusnya olahraga untuk anak?
“Olahraga itu sendiri merupakan bagian yang akan mengoptimalkan pertumbuhan dari seorang anak,” kata dokter Michael.
Dari sisi psikologis, Sani mengatakan olahraga bagi anak itu mampu mengasah semangat bersaing, kemampuan bekerja sama dalam tim, dan kemampuan bersosialisasi. Dalam olahraga, anak juga belajar bersabar menunggu giliran, menggunakan waktu dengan disiplin, serta belajar cara menahan diri.
“Olahraga itu meningkatkan kemampuan motorik, bisa menjadi penyeimbang akademis dan non akademis anak sehingga anak lebih bahagia,” tutur Sani.
Memilihkan olahraga yang tepat bagi anak itu harus bertahap. Sani menyarankan untuk mengenalkan sebanyak mungkin cabang olahraga pada anak.
“Biarkan dia mencoba sebanyak yang dia mau,” katanya.
Semakin anak tumbuh, orang tua bisa mengarahkan anak untuk memilih jenis olahraga yang cocok, yang disenangi, dan dapat mengoptimalkan kemampuannya.
Menurut Sani, hal-hal seperti ini yang sering luput dari perhatian orang tua. Padahal keinginan orang tua dan keinginan anak haruslah dikomunikasikan selalu.
Kuncinya adalah bagaimana orang tua membuat kegiatan olahraga anak itu menyenangkan bukan menjadi suatu kewajiban yang memaksa. Sani menyarankan untuk mengajak anak berdiskusi bukan menjebak anak ke satu cabang olahraga yang tidak disukainya.
“Anak akan merasa dibohongi dan tidak dianggap keinginannya,” tutur Sani.
“Jadi memang ambisi orang tua bisa membuat anaknya memiliki ambisi yang sama. Yang susah itu kalau orang tuanya tidak berhasil membuat anaknya berambisi tapi tetap memaksakan, jadinya timpang,” lanjutnya.
Dari segi ketahanan fisik, dokter Michael mengatakan, anak yang menjalankan olahraga atas keinginannya sendiri akan cenderung mencegahnya cedera.
“Karena dia tahu tubuhnya penting untuk pertandingan, ia akan jaga agar tetap fit dan tidak cedera,” kata dokter Michael. (*)