• News

Putin Siapkan Serangan Balik untuk Negara Barat yang Ikut Campur Perang Rusia-Ukraina

| Jum'at, 29/04/2022 07:02 WIB

Putin Siapkan Serangan Balik untuk Negara Barat yang Ikut Campur Perang Rusia-Ukraina Seorang wanita menggendong seorang anak di sebelah tentara Rusia di jalan Mariupol pada 12 April 2022, ketika pasukan Rusia mengintensifkan kampanye untuk merebut kota pelabuhan yang strategis. (FOTO: Alexander NEMENOV / AFP)

JAKARTA - Presiden Rusia, Vladimir Putin tak gentar menghadapi keroyokan Barat yang berbondong-bondong membantu Ukraina dengan peralatan perangnya.

Vladimir Putin bahkan mengancam Barat jika ikut campur dalam perang Rusia-Ukraina.

Putin mengaku menyiapkan serangan balik secepat kilat.

Putin bersumpah `operasi khusus` di Ukraina akan `digenapi tanpa syarat`.

Ancaman perang dari Putin datang ketika Rusia mengklaim pada hari Rabu (27/4/2022) telah melakukan serangan rudal di Ukraina selatan yang menghancurkan sebagian besar senjata yang dipasok Barat.

"Negara-negara yang membantu Ukraina, yang berpikir untuk ikut campur dalam peristiwa yang sedang berlangsung dari samping dan menciptakan ancaman strategis yang tidak dapat diterima bagi Rusia, mereka harus tahu bahwa tanggapan kami terhadap serangan balik akan secepat kilat”, kata Putin, dilansir dari Al Jazeera.

“Kami memiliki semua alat untuk ini yang tidak dapat dibanggakan oleh orang lain,” kata Putin kepada anggota parlemen di St Petersburg.

Pernyataan Putin tersebut secara implisit mengacu pada rudal balistik dan persenjataan nuklir Moskow.

“Kami tidak akan membual tentang hal itu: Kami akan menggunakannya jika diperlukan dan saya ingin semua orang tahu itu. Kami sudah mengambil semua keputusan tentang ini.”

Pemimpin Rusia baru-baru ini mengawasi keberhasilan uji coba rudal balistik antarbenua Sarmat, yang diharapkan segera dikerahkan Rusia dengan kemampuan masing-masing untuk membawa 10 atau lebih hulu ledak nuklir.

Putin berjanji untuk menyelesaikan apa yang disebutnya "operasi militer khusus" untuk merebut wilayah dari Ukraina, yang secara historis dianggap Rusia sebagai milik Rusia.

Dia menyalahkan negara-negara NATO dan sekutu mereka karena menghasut pertempuran yang saat ini sedang berlangsung di Ukraina.

“Negara-negara yang secara historis mencoba menahan Rusia tidak membutuhkan negara besar yang mandiri seperti kita. Mereka pikir itu berbahaya bagi mereka hanya dengan keberadaannya. Tapi itu jauh dari kebenaran. Merekalah yang mengancam seluruh dunia,” kata Putin.

"Dengan melancarkan serangan di Ukraina, pasukan Rusia menetralisir bahaya nyata dari konflik besar yang akan terjadi di wilayah kami sesuai dengan skenario orang lain”, kata Putin.

Putin menuduh NATO berencana menggunakan Ukraina sebagai rute untuk menyerang Rusia melalui semenanjung Krimea, yang dicaplok Moskow pada 2014, dan wilayah perbatasan Donbas timur yang dikuasai separatis.

“Semua tugas operasi militer khusus yang kami lakukan di Donbas dan Ukraina, diluncurkan pada 24 Februari, akan dipenuhi tanpa syarat,” kata Putin.

Dia menambahkan upaya Barat untuk mencekik Rusia secara ekonomi melalui sanksi telah gagal.

Serangan Terus Berlanjut

Pada hari Rabu, pertempuran berlanjut di timur Ukraina di sepanjang garis depan yang sebagian besar statis sepanjang sekitar 480 km.

Rusia mengklaim misilnya mengenai sejumlah senjata yang dikirim oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa ke Ukraina.

Pejabat Barat, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas temuan intelijen, mengatakan Rusia telah membuat kemajuan yang lambat di wilayah Donbas di timur dengan "keuntungan kecil", termasuk merebut desa dan kota kecil di selatan Izyum dan di pinggiran Rubizhne.

Serangan terus berlanjut dengan buruknya komando, hilangnya pasukan dan peralatan, cuaca buruk, dan perlawanan kuat dari Ukraina, kata para pejabat.

Beberapa tentara Rusia telah dipindahkan dari kota pelabuhan selatan Mariupol yang hancur ke bagian lain Donbas.

Tetapi beberapa tentara tetap di Mariupol untuk melawan pasukan Ukraina yang bersembunyi di pabrik baja Azovstal, benteng terakhir di kota itu.

Sekitar 1.000 warga sipil dikatakan berlindung di sana dengan sekitar 2.000 pembela Ukraina.

Tepat di seberang perbatasan di Rusia, sebuah gudang amunisi di wilayah Belgorod terbakar pada Rabu setelah beberapa ledakan terdengar, kata gubernur.

Ledakan juga dilaporkan terjadi di wilayah Kursk Rusia dekat perbatasan Ukraina, dan pihak berwenang di wilayah Voronezh Rusia mengatakan sistem pertahanan udara menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak. (*)