Morula Indonesia menandatangani kerjasama dengan National Hospital untuk menggarap pasar pasangan dengan masalah infertilitas di Jawa Timur. Data terkini menunjukkan pertumbuhan market klinik Morula IVF di Surabaya adalah yang tertinggi di Indonesia. Dengan memegang pangsa pasar sebesar 41,4 persen untuk wilayah Surabaya dan Jawa Timur, dimana setiap tahunnya melayani hampir 3.000 pasangan yang berkonsultasi. (Foto.Wahyoe Boediwardhana)
SURABAYA – PT Morula Indonesia resmi menjalin kerjasama dengan Rumah Sakit National Hospital di Surabaya, untuk jangka waktu hingga tiga tahun ke depan. Keduanya bersepakat mengembangkan pelayanan in-vitro fertilization (ivf) terlengkap di Indonesia bagian timur khususnya di Jawa Timur.
Potensi kerjasama bisnis kedua perusahaan ini sangat besar, karena terdapat 185.000 pasangan yang mengalami permasalahan infertilitas di Surabaya dan 20 persen diantaranya adalah market premium, dimana mereka memiliki kemampuan untuk melakukan program bayi tabung.
Dalam penandatanganan kerjasama Morula Indonesia dan National Hospital yang masing-masing diwakili oleh Presiden Direktur PT. Morula IVF Surabaya, Rinaldi Buchari dengan CEO National Hospital, Ang Hoey Tiong, disepakati kedua pihak akan terus memperkuat strategic collaboration mengembangkan pelayanan bayi tabung di Indonesia.
“Penandatanganan kerja sama ini menjadi bentuk optimistisme menuju perkembangan bisnis dan pertumbuhan yang semakin besar di Tahun 2022. Juga sekaligus memberikan sinyal confidence untuk terus tumbuh 25 persen per tahun, selain memperkuat internal core business, ekspansi klinik dan layanan prima kepada pasien,” kata Presiden Direktur Morula Indonesia, Ivan Rizal Sini, usai menyaksikan penandatanganan kerjasama dengan National Hospital, Senin (18/4/2022).
Ditambahkan oleh Ivan, kerjasama bisnis yang sangat strategis ini perlu dilakukan karena klinik fertilitas tidak bisa berdiri sendiri. Oleh karenanya kerjasama dengan National Hospital menjadi sebuah kunci untuk bisa saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain.
Sementara itu di tempat sama, CEO National Hospital Ang Hoey Tiong menegaskan komitmennya untuk memberikan pelayanan fertilitas bagi masyarakat di Jawa Timur dengan standar luar negeri.
“Kami harapkan dengan penandatanganan kerjasama ini akan mampu memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat Indonesia, dan sekaligus mendukung program medical tourism activity,” ujar Ang Hoey Tiong.
Data terkini menggambarkan, pertumbuhan market klinik Morula IVF di Surabaya adalah yang tertinggi di Indonesia. Dengan memegang pangsa pasar sebesar 41,4 persen untuk wilayah Surabaya dan Jawa Timur, dimana setiap tahunnya melayani hampir 3.000 pasangan yang berkonsultasi. Jumlah ini terkonversi menjadi 750 cycles program bayi tabung di tahun 2021. Proyeksi ke depan dari kerjasama ini adalah, bisa melayani 15.000 pasangan per tahun dalam 5 tahun ke depan, dimana angka tersebut dapat menghasilkan 3.000 cycles IVF per tahunnya.
Dengan didukung 43 dokter ahli, perawat dan embryologist yang berkualitas, sangat terlatih dalam bidang bayi tabung, serta didukung National Hospital sebagai rumah sakit yang memberikan layanan prima dengan teknologi terkini, tingkat kesuksesan program bayi tabung ini bahkan mencapai 70 persen, dengan tingkat kesuksesan rata-rata 55-60 persen..
Morula klinik fertilitas mengandalkan rangkaian teknologi terkini seperti cutting edge technology untuk layanan program bayi tabung, maupun Intra Uterine Insemination (IUI). Layanan bayi tabung di Morula IVF Surabaya juga semakin lengkap dengan adanya pemeriksaan Pre-implantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A), Laser Assisted Hatching, ICSI, Intra-cytoplasmic Morphologically selected Sperm Injection (IMSI), Time Lapse Incubator, Embryo Freezing, Egg Freezing hingga Endometrial Receptivity Analysis (ERA).
Menurut salah satu dokter ahli fertilitas Morula, Benedctus Arifin dikatakan, bagi pasangan yang memiliki masalah fertilitas dan ingin segera memiliki buah hati, disarankan segera melakukan pemeriksaan yang lebih detail sejak awal. Karena semakin lama ditunda maka pregnancy rate yang dimiliki juga akan semakin menurun seiring bertambahnya usia.
“Kami bahkan pernah menangani pasangan yang belum dikaruniai momongan setelah 21 tahun menikah, dengan usia pasangan mencapai 49 tahun. Atas izin dari Tuhan pasangan tersebut akhirnya bisa memiliki buah hati,” ujar Benedictus Arifin.
Dengan serangkaian pemeriksaan fertilitas menggunakan teknologi terkini tersebut, pasangan calon pasien harus menyediakan anggaran antara Rp 50 juta sampai Rp 80 juta, bergantung dengan tingkat masalah, pelayanan, pengobatan serta usia calon pasien.