Wakil Ketua MPR Dr. Jazilul Fawaid (foto: Humas MPR)
JAKARTA - Wakil Ketua MPR Dr. Jazilul Fawaid SQ., MA., menyambut bahagia hasil sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama bersama berbagai ormas Islam di Indonesia. Sidang isbat memutuskan 1 Ramadhan 1443 Hijriah jatuh pada 3 April 2022.
Sebagai Ummat Islam, Bulan Ramadan atau Bulan Puasa merupakan bulan yang ditunggu-tunggu dan dirindukan sebab di bulan itu Allah melimpahkan dan menggandakan pahala bagi ummatnya. Di Indonesia Ramadan tidak hanya sekadar bagaimana umat Islam menjalankan kewajiban berpuasa namun di sana berbagai sendi kehidupan umat juga terangkat. “Saat Ramadan kegiatan perekonomian meningkat, kegiatan sosial dan budaya pun juga meriah,” tutur pria yang akrab dipanggil Gus Jazil itu.
Lebih lanjut dikatakan Ramadan menjadi berkah bagi semua. Dipaparkan bagaimana penjual pakaian, makanan, minuman, dan kebutuhan lainnya selama Ramadhan, mereka bukan hanya dari kalangan umat Islam.
“Jadi Ramadan memberi berkah dan rejeki kepada semuanya,” tuturnya.
Ada perbedaan dalam menentukan jatuhnya hari pertama untuk menjalankan puasa. Hal demikian menurutnya tidak masalah.
“Baik metode hisab maupun rukyat sama-sama sahnya,” ujarnya.
Perbedaan yang ada menunjukan suatu dinamika tersendiri di kalangan ummat Islam. “Perbedaan penentuan awal puasa jangan dibesar-besarkan,” harapnya.
Gus Jazil mengajak kepada umat Islam di Ramadan ini tidak hanya meningkatkan derajad keimanan namun juga wawasan kebangsaan.
Diceritakan bangsa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 jatuh di saat Ramadan. Hal demikian menunjukan bahwa di saat ummat Islam menjalankan ibadahnya, nilai-nilai kebangsaan yang ada tetap dijaga, dirawat, bahkan dijadikan momentum besar untuk memerdekakan diri. “Hal demikian menunjukan ada nilai yang seiring dan sejalan antara ibadah ummat dengan paham kebangsaan,” ujarnya.
Nilai-nilai puasa yang salah satunya mampu menahan dan mengendalikan diri diharapkan diimplementasikan oleh ummat Islam saat bermedia sosial. “Di Bulan Ramadan ini lebih baik kita bertutur pada nilai-nilai yang mengandung kebersamaan,” ujarnya.
Gus Jazil itu yakin satu bulan penuh dalam menjalankan ibadah puasa mampu mengubah karakter umat Islam menjadi umat yang lebih baik. Menjadi lebih baik setelah berpuasa diharap hasil yang diperoleh dipertahankan sehingga keinginan untuk membentuk masyarakat yang saling menghormati, menghargai, tenggang rasa, dan toleransi, bisa tercapai.