• News

Ukraina Mengatakan Bahwa Rusia Ingin Membuat Negara Seperti Korsel dan Korut

| Senin, 28/03/2022 06:05 WIB

Ukraina Mengatakan Bahwa Rusia Ingin Membuat Negara Seperti Korsel dan Korut Asap mengepul setelah serangan udara, saat serangan Rusia ke Ukraina berlanjut, di Lviv, Ukraina 26 Maret 2022. Foto: Reuters

JAKARTA - Pemerintah Ukraina mengklaim bahwa tujuan Rusia selama invasi ini hanya untuk memecah negara menjadi seperti Korea Selatan dan Korea Utara, hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Intelijen Militer Ukraina pada Minggu (27/3).

"Faktanya, ini adalah upaya untuk menciptakan Korea Utara dan Selatan di Ukraina," kata Kyrylo Budanov, kepala intelijen militer Ukraina, dalam sebuah pernyataan

Dengan adanya pernyataan tersebut, pemerintah Ukraina mengambil sebuah langkah yang cukup agresif dengan bersumpah bahwa pihaknya akan berperang secara gerilya untuk mencegah terjadinya perpecahan.

Setelah lebih dari empat minggu konflik, Rusia gagal merebut semua kota besar yang ada di Ukraina, dan Moskow pada hari Jumat (25/3) memberi isyarat bahwa pihaknya akan mengurangi ambisinya untuk fokus mengamankan wilayah Donbass di Ukraina timur, sebuah tempat separatis yang didukung Rusia memerangi tentara Ukraina.

Seorang pemimpin lokal di Republik Rakyat Luhansk yang memproklamirkan diri mengatakan pada hari Minggu bahwa wilayah tersebut dapat segera mengadakan referendum untuk bergabung dengan Rusia, seperti yang terjadi di Krimea setelah Rusia merebut semenanjung Ukraina pada tahun 2014.

Rakyat Krimea sangat memilih untuk memutuskan hubungan dengan Ukraina dan bergabung dengan Rusia yang notabanenya hal tersebut sangat ditolak oleh sebagian besar dunia.

Kyrylo Budanov juga mengatakan bahwa Ukraina akan segera melakukan perang gerilya secara total untuk mencegah hal itu terjadi.

"Selain itu, musim safari gerilya Ukraina total akan segera dimulai. Kemudian akan ada satu skenario relevan yang tersisa untuk Rusia, bagaimana bertahan hidup," kata Kurulo Budanov dilansir dari Reuters.

Oleg Nikolenko, selaku Juru bicara kementerian luar negeri Ukraina juga menolak pembicaraan tentang referendum di Ukraina timur.

"Semua referendum palsu di wilayah yang diduduki sementara adalah batal demi hukum dan tidak akan memiliki validitas hukum," katanya.

Diketahui Presiden Volodymyr Zelenskiy mendesak Barat untuk memberikan tank, pesawat dan rudal Ukraina untuk membantu menangkis pasukan Rusia, yang menurut pemerintah Kyiv semakin menargetkan depot bahan bakar dan makanan.