Pelepasan merpati menandai fase uji klinis vaksin merah putih.
Jawa Timur – Vaksin Merah Putih (VMP) yang dikembangkan oleh Universitas Airlangga dan PT Biotis Pharmaceutical Indonesia, secara resmi memasuki fase uji klinis pertama. Launching uji klinis pertama ini ditandai dengan pemberian vaksin kepada 90 orang yang bersedia menjadi relawan uji klinis.
Rektor Universitas Airlangga Surabaya, M. Nasich mengatakan, uji klinis tahap satu ini dijadwalkan akan memakan waktu tiga hari. Ini dilakukan kepada relawan yang telah dinyatakan lolos screening seluruh persyaratan.
“Setelah proses vaksinasi ini selesai, kami jadwalkan akan melakukan observasi selama dua minggu. Setelah hasilnya memenuhi seperti yang disyaratkan, maka akan kami lanjutkan dengan uji klinis fase dua dengan melibatkan 500 orang relawan. Lalu kalau itu sudah selesai dan sesuai hasil yang disyaratkan, maka kami akan memasuki fase uji klinis tahap tiga yang melibatkan 5.000 orang relawan,” jelas M. Nasich, usai menghadiri seremonial launching uji klinis VMP fase pertama yang dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, di Rumah Sakit dr. Soetomo Surabaya, Rabu.
Menurut M. Nasich, untuk memenuhi target mendapatkan ribuan relawan yang bersedia terlibat dalam fase uji klinis tersebut, pihaknya akan bekerjasama dengan jajaran TNI. Selain itu pihaknya akan mengoptimalkan jaringan Ikatan Alumni Unair (IKA Unair), serta membentuk hunter-hunter relawan vaksin.
“Kami akan jemput bola juga. Meskipun berat, tapi kami yakin jumlah ini akan berhasil kami penuhi,” ujar M. Nasich.
Sementara itu mengikuti acara secara daring dari Jakarta, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, VMP ini merupakan satu-satunya pengembangan vaksin yang penelitiannya sejak fase awal dilakukan sendiri oleh Universitas Airlangga.
“Biasanya pihak yang terlibat dalam penelitian dan pengembangan akan mengambil porsi tertentu saja. Tapi ini tidak. Unair melakukan semuanya sendiri sejak awal,” terang Menteri Kesehatan.
Kemeterian Kesehatan yang dipimpinnya juga sudah menyiapkan rencana terkait penggunaan VMP ini. Apabila uji klinis telah selesai dilakukan dan VMP mendapat sertifikat kelayakan dari BPOM maupun lembaga World Health Organization (WHO), maka pihaknya akan mungkin menggunakan VMP ini sebagai vaksin booster maupun vaksin untuk anak-anak.
“Masih didiskusikan bagaimana penghunaan Vaksin Merah Putih ini. Bisa digunakan sebagai booster dan vaksinasi anak. Ini yang sedang didiskusikan. Potensinya yang bisa digunakan ya untuk dua hal itu. Anak mulai usia 3 tahun sampai 6 tahun belum ada yg divaksin. Ini potensi yang bisa digunakan VMP,” jelas Budi Gunadi Sadikin.
Di tempat sama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menambahkan, karena VMP ini telah mengantongi label halal dari MUI yang berlaku hingga lima tahun ke depan, maka vaksin ini akan mungkin dijadikan sebagai produk donasi pemerintah Indonesia.
“Ini masih memerlukan langkah panjang. Tapi, bahwa kalau ini nanti menjadi produk donasi dari pemerintah Indonesia, anggarannya sudah disiapkan oleh Kementerian Kesehatan,” tukas Muhadjir Effendy.
Menurut Muhadjir, saat ini masih bayak negara-negara muslim yang terkendala dengan kehalalannya vaksin Covid-19. Dengan sertifikat halal yang dimiliki VMP ini, diharapkan akan menjadi jalan keluar untuk Indonesia bisa berkontribusi bagi dunia internasional.
“Dengan situasi ini saya minta para pihak untuk jangan lagi gamang. Harus bekerja lebih keras lagi,” ujar Muhadjir.