• News

Kudeta Gagal di Guinea-Bissau, 11 Tewas

Akhyar Zein | Kamis, 03/02/2022 16:26 WIB
Kudeta Gagal di Guinea-Bissau, 11 Tewas Tentara terlihat berpatroli di area istana pemerintah (foto: AFP/ BBC)

JAKARTA - Kudeta gagal oleh tentara di Guinea-Bissau untuk menggulingkan Presiden Umaro Sissoco Embalo menewaskan sedikitnya 11 orang.

Embalo mengatakan Selasa malam bahwa banyak anggota pasukan keamanan tewas dalam aksi penembakan selama lima jam.

Korban tewas termasuk pasukan militer, paramiliter dan empat warga sipil, termasuk seorang pejabat senior dari Kementerian Pertanian, kata Menteri Pariwisata dan juru bicara pemerintah, Fernado Vaz, dalam jumpa pers di ibu kota Bissau.

Dia juga mengecam apa yang dia sebut sebagai serangan “kekerasan dan barbar” yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintah.

Vaz mengatakan percobaan kudeta itu direncanakan dan dilakukan dengan "motif tersembunyi" lewat dukungan "orang-orang dengan kemampuan finansial."

Tembakan terdengar di dekat istana presiden di Bissau pada Selasa, yang mengarah ke laporan tentang upaya kudeta di negara dengan sejarah kudeta militer itu.

Meskipun tidak jelas apakah para penyerang adalah anggota pasukan keamanan, laporan mengindikasikan bahwa Embalo dan Perdana Menteri Nuno Gomes Nabiam sedang mengadakan rapat Kabinet di gedung tersebut pada saat itu.

Embalo, yang Selasa malam meyakinkan bahwa situasi di Guinea-Bissau "di bawah kendali pemerintah," menggambarkan upaya kudeta sebagai serangan terhadap demokrasi yang dikaitkan dengan kelompok terkait perdagangan narkoba.

Ketua Komisi Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat, dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres keduanya menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi tersebut.

Laporan media mengatakan Rabu bahwa kepala intelijen telah meluncurkan penyelidikan untuk membantu mengidentifikasi para penyerang.

Tentara berpatroli di jalan-jalan, tetapi bisnis telah kembali beroperasi.

Sebuah komisi penyelidikan juga telah dibentuk.

Guinea-Bissau telah mengalami sembilan kudeta dan percobaan kudeta sejak kemerdekaannya dari Portugal pada tahun 1974.

Selama lebih dari empat dekade, tidak ada kepala negara terpilih yang menyelesaikan masa jabatan lima tahun sampai Jose Mario Vaz menyelesaikan masa jabatan penuhnya pada Juni 2019.

Pada tahun 2009, Presiden Joao Bernardo Vieira dibunuh dalam serangan balas dendam oleh tentara atas pembunuhan kepala tentara negara itu, yang bertentangan dengan Vieira.