• News

Emil Salim Bilang Indonesia Belum Bisa Lindungi Bio Diversity

yahya | Jum'at, 11/06/2021 18:39 WIB

Emil Salim Bilang Indonesia Belum Bisa Lindungi Bio Diversity Tokoh lingkungan Prof. Emil Salim. Foto: tempo

Katakini.com – Indonesia dinilai belum berhasil dan mampu melindungi bio diversity seperti yang telah disepakati secara global yaitu sebesar 30 persen dari total luas wilayah, baik lautan maupun lahan.

“Indonesia belum mampu melindungi bio diversity. Dari keharusan 30% lautan dan lahan yang terlindungi, baru 17% saja yang mampu dilindungi oleh Indonesia,” ujar Emil Salim saat menjadi pembicara kunci seminar “Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Pemuda Berkelanjutan dalam Konteks Bonus Demografi” dalam peluncuran Centre for Youth and Population Research (CYPR), sebuah lembaga riset yang berfokus pada kepemudaan dan kependudukan, di Jakarta, Jumat (11/6/2021).

Bahkan, menurut tokoh lingkungan ini, Indonesia termasuk kedalam 5 negara besar yang masih melakukan pencemaran udara. Sehingga target penurunan emisi gas rumah kaca sebagai salah satu isu perubahan lingkungan belum mencapai sasaran.

“Oleh karena itu, pemuda menjadi satu-satunya harapan agar pembangunan berkelanjutan atau sustainable development yang telah disepakati oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, dapat terwujud,” katanya.

Direktur Eksekutif CYPR, Dedek Prayudi menyampaikan, saat ini, jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta orang, dengan proporsi 70% berada di usia produktif (15-60 tahun) yang sebagian besar di antaranya ialah kelompok pemuda (16-30 tahun).

“Jika pemuda tidak diberdayakan, maka bukan tidak mungkin Indonesia justru membuang peluang bonus demografi dan para pemuda menjadi beban yang sangat berat. Dan bukan tidak mungkin, dampak lebih buruk lagi, Indonesia mengalami kemunduran,” kata Dedek.

Menurutnya, CYPR memegang peran untuk mendorong sinergi antar pemberdayaan pemuda dengan perubahan pemahaman dan perilaku terhadap lingkungan hidup.

“Kini, pengelolaan lingkungan hidup berada di tangan generasi muda. Bonus demografi adalah peluang mendorong produktivitas, namun hal ini akan mendorong distribusi dan konsumsi yang memiliki risiko adanya eksternalitas negatif yang dihasilkan. Proses produksi, distribusi dan konsumsi memiliki dampak besar terhadap lingkungan hidup,” kata Dedek.

Kepala Lembaga Demografi UI Turro Wongkaren mengatakan bonus demografi jika tidak dimanfaatkan akan menjadi sebuah bencana demografi.

Bagi Indonesia sendiri, masa bonus demografi tersebut terjadi pada rentang 2012-2036 dengan puncaknya di 2020-2024.

“Perlu adanya perubahan perspektif pemuda dalam memandang lingkungan hidup. Pemuda sudah saatnya menjadi yang terdepan dalam kebijakan pembangunan berbasis lingkungan, mengingat pola pembangunan modern sudah mulai mengarusutamakan lingkungan dan konsepsi green living,” ujar Turro.

Pembina CYPR Andrinof Chaniago, dalam pesan penutup, menyampaikan bahwa bonus demografi menjadi sumber tantangan ganda, baik bagi generasi milenial maupun generasi selanjutnya. Tantangan tersebut ialah kelebihan penduduk usia produktif dan peningkatan jumlah orang yang mencari pekerjaan, serta kemajuan teknologi digital.

“Oleh karena itu, kesempatan kerja harus ditingkatkan, sehingga bonus demografi tersebut tidak terbuang,” ujar mantan Menteri PPN/Bappenas ini.