• News

Indonesia Naikkan Konsumsi Rumah Tangga, Kejar Pertumbuhan 7 Persen

akhyar | Rabu, 19/05/2021 19:33 WIB

Indonesia Naikkan Konsumsi Rumah Tangga, Kejar Pertumbuhan  7 Persen Ilustrasi. Seorang pedagang sedang melayani pembeli di sebuah pasar tradisional (foto: ayobandung.com)

Katakini.com – Pemerintah fokus untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 7 persen pada kuartal kedua tahun ini.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah optimistis target tersebut tercapai dengan melihat sejumlah indikator.

“Kami optimistis perekonomian akan kembali berada dalam jalur trek positif. Perbaikan ekonomi Indonesia potensinya bisa V shape,” ujar dia dalam acara pertemuan dengan wartawan, Rabu.

Indikator pertama kata Menteri Airlangga adalah jumlah uang kartal yang bereda pada Lebaran tahun ini mencapai Rp154,5 triliun atau naik 41,5 persen dibanding tahun lalu.

Bahkan di Jabodetabek ada lonjakan hingga 61 persen atau Rp34,8 triliun.

Kondisi ini menurut Menteri Airlangga menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah tentang kewajiban pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) bagi perusahaan swasta mampu membanjiri pasar dengan likuiditas yang cukup.

Pada kuartal pertama, konsumsi pemerintah juga sudah tumbuh 2,9 persen.

Sedangkan kinerja ekspor dan impor juga sudah positif, masing-masing 6,74 persen dan 5,27 persen.

Menurut Menteri Airlangga, selain menggenjot pertumbuhan konsumsi rumah tangga, pemerintah juga harus fokus untuk meningkatkan konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT), dan pembentuk modal tetap bruto (PMTB) atau investasi.

“Ini yang harus kita dorong di kuartal kedua agar kita bisa tumbuh lebih tinggi atau di kisaran 7 persen,” ujar Menteri Airlangga yang juga ketua umum Partai Golkar ini.

Sedangkan secara tahunan, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 4,5 persen hingga 5,3 persen

 

-Harga komoditas

Menurut Menteri Airlangga, saat ini terjadi lonjakan harga komoditas yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

Selain itu peluang ini juga harus ditangkap oleh Indonesia dengan mempercepat program hilirisasi.

Komoditas tersebut antara lain crude palm oil (CPO) menjadi USD969 tahun ini dari USD759 pada tahun lalu.

Kemudian karet dari USD1,75 menjadi USD2,24 dan aluminium dari USD1.721 ke USD2.188,

Selain itu nikel dari USD13.928 ke USD16.406 dan batu bara USD77,6 menjadi USD61,4

“Ini seiring dengan naikknya permintaan. Indonesia diharapkan bisa memanfaatkan commodity boom ini dengan hilirisasi agar bisa lebih sustainable,” ujar dia.

Contohnya kata Menteri Airlangga adalah kenaikan harga nikel, Indonesia sudah menerapkan hilirisasi dengan membangun secara massif industri berbasis nikel.

Hasilnya, Indonesia sudah bisa mengekspor produk industri berbasis nikel dan baja di atas USD10 miliar, ujar Menteri Airlangga.

Kenaikan harga aluminium juga diikuti dengan pembangunan smelter-smelter, baik di Galang Batang, Kalimantan Barat.

“Kondisi ini membuat kita bisa me-recover ekonomi secara lebih cepat,” ujar dia.(AA)