Petugas kepolisian Myanmar menyeret demonstran yang terluka saat bentrokan dengan polisi ketika aksi kudeta militer di Tamwe, Yangon, Myanmar, 14 Maret 2021. Jumlah korban meninggal telah menyentuh angka 126 orang selama unjuk rasa menentang kudeta militer. (foto: Reuters)RS
Katakini.com - Kedutaan de facto Taiwan di Myanmar menganjurkan perusahaan-perusahaan Taiwan yang beroperasi di negara itu memasang bendera agar bisa dibedakan dengan perusahaan China.
Sebelumnya sejumlah pabrik China di Myanmar di tengah gelombang unjuk rasa menentang kudeta militer.
Dalam pernyataannya pada Senin, Kementerian Luar Negeri Taiwan mengatakan hanya ada satu perusahaan Taiwan yang terjebak dalam kekerasan unjuk rasa di Myanmar.
Taiwan juga mengatakan 10 pegawainya yang terjebak dalam kekerasan berhasil selamat.
Kantor perwakilan Taiwan sejauh ini sudah mendapat laporan terjadinya serangan ke perusahaan-perusahaan China di Myanmar.
Kantor perwakilan Taiwan menyerukan agar pegawai perusahaan mereka memasang spanduk bertuliskan Perusahaan Taiwan dalam bahasa Myanmar dan juga bendera Taiwan agar terhindar dari serangan kekerasan.
NGO pengawas tahanan politik di Myanmar menyampaikan sedikitnya 126 orang sejak kudeta militer 1 Februari lalu.
Dari jumlah itu, 38 di antaranya tewas pada Minggu.
Asosiasi Pendamping untuk Tahanan Politik (AAPP) melansir sampai dengan 14 Maret, total 2.156 orang telah ditangkap, didakwa atau dijatuhi hukuman sehubungan dengan kudeta militer.
“Di Hlaing Thar Yar, Yangon, banyak orang yang terbunuh dan terluka oleh sejumlah besar pasukan junta dan menjadi seperti medan pertempuran,” ujar AAPP dalam pernyataannya di Myanmar pada Senin.(Anadolu Agency)