Ilustrasi pembantian manusia
Katakini.com – Meski seabad berlalu, ingatan tentang pembunuhan 35.000 warga sipil oleh kelompok Dashnak Armenia yang bersenjata masih segar di benak masyarakat di negara-negara Asia Tengah.
Sejarawan mengungkapkan bahwa lebih dari 200 kota dan pemukiman di Lembah Fergana di bagian timur Uzbekistan dihancurkan pada 1918.
"Kebanyakan orang tua, wanita dan anak-anak tewas dalam pembantaian sejak 13 Februari 1918, dan berlangsung selama tiga bulan, oleh Dashnaks yang menghancurkan Otonomi Turkistan," kata Sohret Barlas, yang merupakan sejarawan, peneliti, dan penulis Uzbek yang mempelajari Dashnaks selama lebih dari 29 tahun terakhir.
Federasi Revolusi Armenia, disebut sebagai Dashnaks - sebuah kelompok teroris - didirikan pada 1890 untuk menyerang Muslim Turki.
Mereka melakukan pembantaian di kota Hokand pada Februari 1918 dan kemudian di Azerbaijan pada Maret itu, menewaskan lebih dari 35.000 orang.
"Lebih dari 35.000 orang tewas secara brutal," kata peneliti itu.
Dia ingat bahwa kelompok Dashnak bertujuan untuk menghancurkan Republik Otonomi Turkistan, salah satu negara demokrasi yang didirikan oleh rakyat Turki setelah runtuhnya rezim Czar di Rusia.
Bolshevik Rusia menggunakan kelompok Dashnak Armenia, yang melihat pemerintah Turkistan sebagai bahaya besar.
Sebanyak sepuluh truk berisi militan Dashnak dibawa ke Ashgabat dan kemudian ke Hokand melalui Laut Kaspia.
Republik Otonomi Turkistan hanya bisa bertahan selama tiga bulan.
Barlas mengatakan Dashnak tidak pernah berperang melawan tentara atau orang bersenjata tetapi mereka malah menyerang warga sipil tak bersenjata untuk menanamkan rasa takut.
Dia ingat bahwa mereka membakar rumah sakit dan masjid di Hokand dan tidak mengizinkan orang untuk melarikan diri.
Mengacu pada penelitian lapangannya, Barlas mengatakan ingatan soal pembantaian ini belum terhapus dari benak masyarakat bahkan setelah seabad.
Selain Fargana, Dashnak yang beroperasi di bawah mandat Dewan Baku, atau Baku Soviet, membunuh ribuan warga sipil di kota Baku, ibu kota Azerbaijan, pada bulan April-Mei 1918 karena afiliasi keagamaan mereka.(Anadolu Agency)