• News

Pengamat: Tidak Banyak Yang Bisa Dilakukan Negara Terkait Kenaikan Harga Kedelai

akhyar | Rabu, 06/01/2021 05:40 WIB

Pengamat: Tidak Banyak Yang Bisa Dilakukan Negara Terkait Kenaikan Harga Kedelai Industri pengolahan tahu (foto antaranews)

Katakini.com – Pengamat mengatakan negara tidak bisa melakukan banyak hal terkait melonjaknya harga kedelai yang berdampak pada kesulitan produsen tahu tempe melakukan produksi.

Pakar Ekonomi Pertanian Bustanul Arifin mengatakan Indonesia hanya mampu memproduksi kedelai sekitar 500 ribu ton yang terus menurun karena sistem insentif yang tidak berpihak kepada petani.

Bustanul menilai tidak banyak opsi yang tersedia bagi pemerintah dalam mengantisipasi kenaikan harga kedelai impor tersebut.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah mencari stok kedelai yang ada di sekitar pasar impor untuk kebutuhan jangka pendek.

“Pemerintah bisa saja fokus meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Tapi, langkah itu harus disertai sistem insentif yang memadai,” ujar Bustanul kepada Anadolu Agency, Selasa.

Menurut dia, apabila harga kedelai di tingkat petani hanya dihargai Rp7.000/kg, akan membuat mereka tidak semangat meningkatkan produksi.

Bustanul mengatakan area pertanaman kedelai semakin terbatas sebagian di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan hanya sebagian kecil di Sumut, Sumsel dan Lampung.

“Strategi tersebut semuanya bervisi jangka panjang, sehingga memang perlu dikawal dengan seksama,” imbuh dia.

Bustanul mengatakan kebutuhan untuk konsumsi kedelai di atas 4,5 juta ton dan pada tahun 2019 jumlah impor kedelai mencapai 4,2 juta ton kemudian hingga September 2020 impor kedelai mencapai 2 juta ton.

“Artinya, ketergantungan kedelai impor sampai 80 persen itu juga ikut berpengaruh pada rendahnya pasokan kedelai dan tingginya harga kedelai untuk industri tahu-tempe,” jelas Bustanul.

Bustanul mengatakan terdapat masalah pada sistem logistik perdagangan internasional yang menyebabkan kelangkaan kontainer sehingga berpengaruh pada keseimbangan pasokan barang-barang yang diperdagangankan di pasar global.

“Kita tentu lebih khawatir kalau fenomena permasalahan sistem logistik internasional ini akan berimbas besar pada perdagangan dalam negeri,” imbuh Bustanul.

Dia mengatakan harga kedelai FOB (Freight on Board) di pasar global pada Desember 2020 telah mencapai USD 500 per ton sementara harga rata-rata kedelai pada 2019 hanya USD370 per ton.

Menurut Bustanul, kenaikan harga kedelai ini juga terpengaruh oleh persoalan perburuhan di industri pertanian kedelai di Argentina akibat banyak tenaga kerja pertanian yang mogok dan minta kenaikan upah sampai 35 persen.

“Faktor kedua kenaikan harga kedelai adalah lonjakan permintaan kedelai dari China karena pembangunan industri pakan ternak yang sangat pesat,” imbuh dia.

Bustanul mengatakan industri berbasis kedelai di China sengaja meningkatkan stok kedelai dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton menjelang persiapan Imlek.

Dia mengatakan faktor-faktor ini yang berkontribusi pada melonjaknya harga kedelai impor di dalam negeri, bahkan mencapai Rp9.200/kg dari biasanya sekitar Rp7.200/kg atau terjadi kenaikan 20 hingga 30 persen.(Anadolu Agency)

Keywords :


kedelai harga
.
kenaikan