Hachalu Hundessa (foto thereporterethiophia.com)
Katakini.com - Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia (EHRC) mengatakan telah menemukan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh individu dan kelompok yang berpartisipasi dalam kekerasan dan krisis keamanan di Wilayah Oromia, menyusul kematian musisi Hachalu Hundessa.
"EHRC mengunjungi lebih dari 40 tempat berbeda di Wilayah Oromia selama beberapa hari sebagai bagian dari penyelidikan atas pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi antara 29 Juni - 2 Juli 2020," demikian pernyataan kelompok hak asasi manusia itu pada Jumat.
"Dalam 59 halaman laporan, ditemukan bahwa penyerang yang bergerak dalam kelompok menggunakan senjata tajam seperti kapak, pisau, parang, tongkat dan senjata lain untuk membunuh dan melukai warga sipil dengan cara mengerikan yang melibatkan pemenggalan dan penyiksaan."
"Secara keseluruhan, 123 orang tewas dan lebih dari 500 orang lainnya terluka dalam aksi pembantaian yang juga membuat ribuan orang mengungsi," katanya.
Temuan itu menunjukkan bahwa serangan tersebut memenuhi unsur-unsur kejahatan terhadap kemanusiaan dengan jumlah korban yang besar, terorganisir dalam sebuah kelompok, dan memilih korbannya berdasarkan etnis atau agama mereka ketika melakukan serangan di beberapa tempat berbeda, tambah keterangan tersebut.
“Pasukan keamanan memiliki tugas berat untuk memulihkan ketertiban dalam menghadapi kekerasan yang meluas itu, namun proporsionalitas pasukan yang digunakan dalam beberapa konteks sangat dipertanyakan," tambah kelompok itu.
"Dalam beberapa kasus, pasukan keamanan menggunakan kekuatan yang tidak proporsional dalam upaya mereka untuk memulihkan ketertiban di tengah kekerasan yang meluas dan sebagai akibatnya, pejalan kaki, pengamat, orang muda, orang tua turun tangan untuk menengahi, dan bahkan petugas polisi kehilangan nyawa karena luka tembak, "katanya.
Hachalu Hundessa, 34 tahun, adalah penyanyi Ethiopia yang menjadi simbol politik dan perlawanan di Ethiopia tewas pada Senin malam, 27 Juni 2020. Insiden itu memicu kerusuhan yang menyebar di Oromia. Sosok Hachalu dianggap sebagai pahlawan.
Lagu-lagu Hachalu selama ini berfokus pada hak-hak orang-orang Oromo yang merupakan kelompok etnis terbesar Ethiopia. Dan menjadi lagu kebangsaan dalam gelombang protes yang menyebabkan jatuhnya perdana menteri sebelumnya pada 2018.(Anadolu Agency)