Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM,l Yuliot (kanan)
Katakini.com – Belanja modal perusahaan hulu migas Indonesia masih rendah bahkan bila dibandingkan dengan Irak, Angola, dan Nigeria
Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal Yuliot mengatakan berdasarkan data FDI Markets 2020, belanja modal hulu migas Indonesia hanya USD462 juta
Dia mengatakan nilai tersebut masih tertinggal dibandingkan Irak yang mencapai USD4 miliar, Angola USD4,47 miliar, dan Nigeria USD3 miliar.
“Kondisi aliran investasi inflow di bidang minyak dan gas kita masih relatif terbatas,” jelas Yuliot dalam diskusi virtual, Rabu.
Yuliot menambahkan dari sisi produksi pada sektor migas Indonesia juga selalu menurun dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2000 mencapai 1,4 juta barel per hari, namun pada 2019 hanya tersisa 700 ribu barel per hari.
Sementara konsumsi migas di Indonesia justru meningkat secara signifikan mencapai 1,7 juta barel per hari pada 2019.
Akibat kesenjangan produksi dan konsumsi tersebut kata Yuliot, Indonesia mengalami defisit migas mencapai lebih dari USD10 miliar, karena ekspor hanya USD11,7 miliar sedangkan impor mencapai USD21,8 miliar.
Yuliot mengatakan persoalan tersebut salah satunya karena adanya keengganan perusahaan migas untuk berinvestasi akibat adanya tumpang tindih regulasi dan perizinan.
Yuliot menjelaskan pengesahan UU Cipta Kerja diharapkan bisa membantu mengatasi permasalahan regulasi dan perizinan yang tumpang tindih khususnya di sektor migas untuk mendorong investasi.(Anadolu Agency)