Diskusi Empat Pilar dengan tema “Penguatan Nilai Gotong Royong untuk Antisipasi Resesi” di Media Center Parlemen di Jakarta, Rabu (2/9/2020).
Katakini.com - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengaku optimistis bangsa Indonesia bakal mampu menghadapi situasi sulit di masa pandemi Covid-19.
“Gotong royong dan persatuan menjadi salah satu nilai yang sangat kuat dan modal dasar menghadapi dampak dari pandemi Covid-19, termasuk mengantisipasi resesi ekonomi,” kata Lestari Moerdijat dalam Diskusi Empat Pilar dengan tema “Penguatan Nilai Gotong Royong untuk Antisipasi Resesi” di Media Center Parlemen di Jakarta, Rabu (2/9/2020).
Lestari mengatakan, gotong royong merupakan nilai dasar kebangsaan yang sangat diperlukan saat ini. Juga semangat solidaritas dan kolaborasi. Kondisi bangsa saat ini memerlukan kerjasama semua pihak.
Menurut Rerie, Indonesia memiliki empat konsensus kebangsaan menghadapi tantangan itu. Mengutip survey Charities Aid Foundation, Indonesia adalah negara yang giving indeks-nya terus naik dalam 10 tahun terakhir.
Solidaritas (gotong royong) dan kedermawanan menjadi modal sosial menghadapi Covid-19.
“Gotong royong sudah menjadi jati diri bangsa Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, solidaritas atau gotong royong dan kedermawanan sesungguhnya adalah pemaknaan Pancasila itu sendiri.
“Gotong royong dan kedermawanan merupakan hasil pengamalan nilai-nilai keagamaan yang dipadu dengan tatanan berbangsa dan bernegara yang diamanatkan sila ketiga dan keempat Pancasila, demi terwujudnya sila kelima,” jelasnya.
Sejalan dengan Rerie, anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar Ace Hasan Syadzily berpendapat ketahanan sosial bangsa Indonesia sedang diuji di masa pandemi Covid-19.
“Ada hikmah di balik pandemi Covid-19 ini, yaitu kita bisa memperkuat ketahanan sosial kita dengan menumbuhkan kegotong-royongan,” ujarnya.
Ace Hasan Syadzily berharap pemerintah bisa mendorong masyarakat agar memiliki ketahanan sosial yang kuat.
“Jangan kemudian ketahanan sosial itu diganggu dengan kebijakan-kebijakan yang menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat. Ujung-ujungnya bisa menimbulkan social unrest dan tidak ada harmoni di masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua/Pendiri NCBI (Nation and Character Building Institute) Juliaman Saragih setuju bahwa gotong royong merupakan karakter dan jati diri bangsa.
Gotong royong ada di kalangan masyarakat bawah. Karena itu, nilai gotong royong itu akan sangat besar bila pemerintah membantu UMKM. Sebab, UMKM menyentuh lapisan masyarakat bawah.
“Dengan demikian akan muncul roh gotong royong di masyarakat. Dan kita bisa melewati masa pandemi ini,” ujarnya.
Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian dan UMKM Luhur Pradjarto menambahkan, dari sebanyak 235 ribu pelaku UMKM, sebanyak 22 persen mengeluhkan penjualan dan permintaan menuru, 18 persen mengeluhnya produksinya terhambat, dan 19 persen mengeluh distribusi terhambat.
“Pemerintah telah menggelontorkan Rp695 triliun, dan dari jumlah itu sebanyak Rp123,4 triliun untuk UMKM supaya pelaku UMKM bisa tumbuh. UMKM merupakan tulang punggung dan garda terdepan ekonomi Indonesia,” ujarnya.