Kereta Api jarak jauh di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat.
Katakini.com - Wabah pandemi Corona atau virus Covid-19 dalam tiga bulan membuat pendapatan PT Kereta Api Indonesia/KAI (Persero) berkurang lebih dari 90%. Dari pendapatan normal Rp23 miliar perhari, saat ini hanya sekira Rp300 - Rp400 juta per hari.
"Dalam kondisi normal, kami tiap hari angkutan penumpang bisa mendapatkan sekitar Rp23 miliar dalam satu hari. Sekarang ini hanya sekitar Rp300-an juta atau Rp400 juta," kata Dirut KAI, Didiek Hartantyo dalam rapat kerja dengan Anggota Komisi VI DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (30/6/2020).
Didiek mengatakan bahwa dalam masa pandemi Covid-19 pihak perseroan tidak bisa mengoperasikan layanan kereta api secara normal mengingat ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Akibatnya pemasukan kas perseroan juga mengalami penurunan yang sangat signifikan.
"Sekedar ilustrasi saja Bapak/Ibu sekalian sekarang ini kami hanya mengoperasikan sangat minim daripada angkutan kereta api. Bahkan sekarang ini, kalau kita lihat persentase kita itu hanya sekitar 7%" ujar Didiek.
Didiek mengatakan, krisis yang terjadi pada perseroan mulai terjadi sejak pertengahan Maret. Hal itu seiring dengan mulai diterapkannya berbagai aturan protokol kesehatan ditempat umum. Akibatnya perseroan tidak bisa mengoperasikan secara penuh kereta api jarak jauh dan hanya mengoperasikan kereka komuter dan lokal saja.
"Kita mencoba melakukan operasi kereta jarak jauh, namun dengan syarat sesuai protokol Covid, penumpang itu harus rapid test, swab test, dan SIKM itu belum menimbulkan minat untuk bepergian. Sementara KRL dan kereta kota lokal yang beroperasi tadi yang rute Solo-Jogja, Rancaekek, Surabaya-Jombang," beber dia.
Terkait kinerja perseroan yang turun drastis tersebut KAI berharap pemerintah segera membayar utang kepada perseroran sebesar Rp257,87 miliar. Utang tersebut merupakan kekurangan pembayaran pemerintah terhadap kewajiban pelayanan publik (PSO) atas subsidi tiket tahun 2015, 2016 dan 2019.
"Dampak pembayaran utang pemerintah kepada BUMN yang pertama adalah membantu likuiditas kereta api utamanya dalam menghadapi pandemi Covid-19," ujarnya.