• Oase

Tanda-tanda Riya yang Sering Tidak Disadari

Vaza Diva | Minggu, 20/09/2026 04:30 WIB

Tanda-tanda Riya yang Sering Tidak Disadari Ilustrasi - ini tiga tanda riya yang sering tidak kita sadari dalam kehidupan sehari-hari (Foto: AI/chatgpt)

JAKARTA - Riya merupakan sikap ketika seseorang melakukan kebaikan atau ibadah dengan tujuan mendapatkan perhatian dan pujian dari orang lain.

Sikap ini perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi keikhlasan seseorang dalam beramal.

Ali bin Abi Thalib berkata:

ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ لِلْمُرَائِي يَنْشَطُ إِذَا رَأَى النَّاسَ وَ يَكْسَلُ إِذَا كَانَ وَحْدَهُ وَ يُحِبُّ أَنْ يُحْمَدَ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ

Artinya:

“Ada tiga tanda bagi orang yang riya’: ia semangat jika dilihat orang, malas jika sendirian, dan suka dipuji dalam segala urusannya.”

Nasihat tersebut tercantum dalam al-Kafi, Jilid 2, hlm. 295.

Pesan ini menggambarkan bagaimana riya dapat terlihat dari perubahan sikap seseorang ketika berada di hadapan orang lain dan ketika tidak ada yang melihat.

1. Semangat Saat Dilihat Orang

Tanda pertama adalah seseorang menjadi lebih bersemangat melakukan ibadah atau kebaikan ketika ada orang lain yang melihatnya.

Sebaliknya, perhatian terhadap amal tersebut dapat berkurang ketika tidak ada yang menyaksikan. Kondisi ini menjadi pengingat agar seseorang memeriksa kembali niatnya dalam berbuat.

2. Malas Ketika Sendirian

Tanda berikutnya adalah munculnya rasa malas ketika tidak ada orang lain yang mengetahui atau memperhatikan amal yang dilakukan.

Padahal, ibadah pada dasarnya dilakukan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pengakuan manusia. Karena itu, menjaga amal ketika sendirian menjadi salah satu cara untuk melatih keikhlasan.

3. Suka Mendapatkan Pujian

Tanda ketiga adalah terlalu menyukai pujian atas apa yang dilakukan. Seseorang dapat merasa senang ketika amal atau kebaikannya diketahui dan dihargai orang lain.

Mendapat pujian secara alami bukan berarti seseorang otomatis menjadi riya. Yang perlu diperhatikan adalah apakah pujian tersebut menjadi tujuan ketika melakukan amal.

Nasihat ini menjadi pengingat agar seorang Muslim senantiasa memperbaiki niat. Amal yang dilakukan hendaknya tidak bergantung pada ada atau tidaknya orang yang melihat, melainkan tetap dilakukan karena mengharap ridha Allah SWT.

Dengan menjaga niat, seseorang dapat belajar melakukan kebaikan secara lebih tulus, baik ketika berada di tengah banyak orang maupun saat tidak ada seorang pun yang menyaksikannya.