• Gaya Hidup

Hari Kesadaran Diseksi Aorta Setiap 19 September, Ini Sejarah hingga Maknanya

Vaza Diva | Sabtu, 19/09/2026 15:30 WIB

Hari Kesadaran Diseksi Aorta Setiap 19 September, Ini Sejarah hingga Maknanya Ilustrasi - Hari Kesadaran Diseksi Aorta Sedunia setiap 19 September (Foto: iStockphoto)

JAKARTA - Setiap tanggal 19 September, komunitas medis global dan penyintas gangguan kardiovaskular memperingati Hari Kesadaran Diseksi Aorta Sedunia (Aortic Dissection Awareness Day).

Peringatan tahunan ini digelar untuk meningkatkan pemahaman masyarakat serta tenaga kesehatan mengenai diseksi aorta, sebuah kondisi medis darurat berisiko tinggi yang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Aorta sendiri merupakan pembuluh darah arteri terbesar di dalam tubuh manusia yang berfungsi mengalirkan darah kaya oksigen dari jantung ke seluruh organ. Diseksi aorta terjadi ketika lapisan dalam pembuluh darah aorta mengalami robekan.

Darah yang mengalir melalui robekan tersebut menciptakan saluran baru di antara lapisan dinding aorta, sehingga dapat menyebabkan dinding arteri pecah atau menghambat aliran darah ke organ-organ vital seperti otak, ginjal, dan jantung.

Kondisi ini umumnya dipicu oleh faktor risiko utama seperti hipertensi kronis, kelainan jaringan ikat bawaan seperti Sindrom Marfan, hingga aterosklerosis.

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan diseksi aorta adalah kemiripan gejalanya dengan serangan jantung biasa, sehingga kerap menyebabkan keterlambatan diagnosis di fasilitas kesehatan.

Penderita biasanya merasakan nyeri dada atau punggung secara mendadak dengan sensasi tajam seperti ditusuk atau disobek, yang sering kali menjalar ke area antara tulang belikat.

Selain itu, penderita juga kerap mengalami sesak napas, pingsan, perbedaan kekuatan denyut nadi antara lengan kanan dan kiri, hingga gejala yang menyerupai serangan stroke apabila aliran darah ke otak mulai terganggu.

Peringatan Hari Kesadaran Diseksi Aorta Sedunia pertama kali diinisiasi oleh para penyintas dan organisasi pasien internasional untuk mendorong edukasi medis lintas batas.

Melalui kampanye ini, para ahli kesehatan menekankan pentingnya kontrol tekanan darah secara rutin sebagai langkah deteksi dini dan pencegahan paling efektif, terutama bagi individu yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit pembuluh darah.