• News

Traffic Media Anjlok hingga 70 Persen Sejak AI Generatif Muncul

Vaza Diva | Selasa, 15/09/2026 23:28 WIB

Traffic Media Anjlok hingga 70 Persen Sejak AI Generatif Muncul CTO & Co-Founder StartAlliance Global, Maxwell Scott melakukan konfrensi pers usai diskusi bertajuk Countering Digital Threats: Navigating AI and Fake Content di @america, Pacific Place Mall, Jakarta, pada Rabu (15/9) sore (Foto: Vaza/Katakini)

JAKARTA - Perkembangan AI generatif tidak hanya memunculkan tantangan baru dalam keamanan informasi, tetapi juga mulai berdampak terhadap keberlangsungan industri media digital di Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika, mengatakan perkembangan teknologi tersebut telah mengubah lanskap distribusi informasi.

Di satu sisi, media harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menghasilkan berita yang terverifikasi, sementara konten manipulatif berbasis AI dapat dibuat dengan biaya yang jauh lebih rendah.

"Biaya untuk memproduksi informasi yang dapat diverifikasi kini meningkat, sementara biaya untuk membuat konten manipulasi AI justru menurun," ujar Wahyu dalam diskusi bertajuk Countering Digital Threats: Navigating AI and Fake Content di @america, Pacific Place Mall, Jakarta, pada Rabu (15/9).

Menurut Wahyu, tekanan terhadap media juga terlihat dari perubahan pola konsumsi informasi masyarakat setelah kehadiran platform AI generatif.

Riset AMSI bersama Monash University menunjukkan adanya penurunan signifikan terhadap kunjungan ke situs berita di Indonesia.

"Setelah AI generatif dirilis di Indonesia pada akhir tahun 2024, di sepanjang tahun 2025, 50 hingga 70 persen traffic situs web di Indonesia mengalami penurunan," katanya.

Penurunan jumlah pengunjung tersebut turut berpengaruh terhadap pendapatan media, khususnya dari iklan terprogram.

Platform AI generatif dinilai dapat menyerap dan menyajikan kembali informasi yang diproduksi media tanpa memberikan kompensasi kepada penerbit.

Situasi tersebut membuat media menghadapi persoalan ganda. Selain harus menjaga kualitas dan akurasi pemberitaan, perusahaan media juga perlu mempertahankan model bisnis di tengah perubahan distribusi informasi yang semakin cepat.

Persoalan tidak hanya terjadi pada industri media. CTO & Co-Founder StartAlliance Global, Maxwell Scott, mengatakan AI juga meningkatkan kemampuan pelaku kejahatan siber dalam menjalankan serangan terhadap individu maupun infrastruktur penting.

"Semua itu bukanlah hal baru. Namun yang dilakukan AI adalah mempercepat hal tersebut dan memberikan mereka (peretas) alat baru untuk dapat mengakses informasi penting kita serta mengancam infrastruktur penting kita," kata Maxwell.

Ia menilai perkembangan teknologi keamanan harus mampu mengikuti kecepatan inovasi AI.

Menurutnya, perlindungan terhadap data pribadi tidak cukup hanya mengandalkan sistem yang sudah ada, mengingat kemampuan teknologi untuk melakukan serangan juga terus berkembang.

Maxwell juga mendorong pendekatan regulasi yang tidak hanya berkutat pada kemampuan teknis AI di masa mendatang.

Fokus kebijakan, kata dia, perlu diarahkan pada dampak nyata yang telah muncul di tengah masyarakat.

"Bagian terpenting tentang bagaimana kita memikirkan keamanan, teknologi, dan AI tidak melulu tentang model itu sendiri dan kemampuan teknisnya, melainkan tentang dampak yang ditimbulkannya pada individu dan masyarakat luas," ujarnya.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tantangan AI di ruang digital tidak sebatas persoalan teknologi.

Keamanan data, maraknya konten manipulatif, hingga tekanan terhadap bisnis media menjadi bagian dari persoalan yang harus diantisipasi secara bersamaan.