Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Foto: REUTERS)
TEHERAN - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa tekanan ekonomi yang diberlakukan Amerika Serikat tidak akan membuat Iran menyerah terhadap tuntutan Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian di tengah kebijakan baru pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang kembali memperluas sanksi terhadap berbagai sektor strategis Iran.
Pezeshkian menyampaikan sikap tersebut dalam pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam di Bank Sentral Iran, Teheran.
Pertemuan itu dihadiri Menteri Ekonomi Ali Madanizadeh, Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati, serta sejumlah ekonom.
Dalam pertemuan tersebut, para pejabat Iran membahas kondisi perekonomian nasional, termasuk perkembangan moneter, nilai tukar mata uang, dan sektor keuangan.
Situasi ekonomi Iran dinilai menghadapi tekanan besar akibat perang, blokade ekonomi, serta berbagai tekanan eksternal.
Pezeshkian menekankan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah terkoordinasi untuk menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mengendalikan ekspektasi inflasi.
Menurutnya, pengelolaan sektor moneter dan pasar valuta asing tidak dapat dilakukan secara terpisah.
Pemerintah, bank sentral, dan lembaga ekonomi lainnya perlu memperkuat koordinasi agar kondisi ekonomi tetap terkendali.
“Pendekatan kami adalah memahami dan menyelesaikan berbagai persoalan melalui interaksi dan negosiasi. Namun, pada saat yang sama, kami telah dan akan terus berdiri teguh menghadapi tekanan ekonomi,” ujar Pezeshkian dikutip dari Anadolu pada Jumat (28/8).
Ia juga menilai strategi Amerika Serikat terhadap Iran tidak akan menghasilkan tujuan yang diinginkan Washington.
Pezeshkian mengatakan Iran mampu bertahan selama perang berkat perlawanan angkatan bersenjata serta dukungan masyarakat. Atas dasar itu, ia meyakini tekanan ekonomi yang semakin besar juga tidak akan membuat Iran tunduk.
“Amerika Serikat tidak akan mendapatkan apa pun melalui tekanan ekonomi,” ucapnya.
Sementara itu, pemerintahan Donald Trump pada Senin meluncurkan Operation Economic Outcast, sebuah kampanye sanksi baru yang ditujukan untuk mempersempit akses Iran terhadap sistem keuangan internasional.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kebijakan tersebut menyasar sejumlah sektor yang dianggap memiliki peran penting dalam perekonomian Iran.
Sektor penerbangan, pelayaran, perdagangan emas, teknologi, hingga aset digital termasuk dalam sasaran kebijakan terbaru Washington.
Dalam penerapan awal kampanye tersebut, Amerika Serikat memasukkan lebih dari 60 entitas, individu, dan kapal ke dalam daftar hitam.
Bessent mengatakan langkah itu ditujukan untuk memutus jalur-jalur ekonomi utama yang menopang Iran. Washington bahkan menggambarkan strategi tersebut sebagai upaya untuk memberikan tekanan ekonomi maksimal terhadap pemerintahan Teheran.
Di tengah meningkatnya tekanan tersebut, pemerintah Iran berupaya menjaga stabilitas pasar domestik, terutama nilai tukar dan sektor moneter.
Teheran juga tetap membuka kemungkinan penyelesaian melalui interaksi dan negosiasi, sembari menegaskan bahwa tekanan ekonomi tidak akan mengubah sikap Iran.