Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Foto: EPA)
JAKARTA - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Amerika Serikat tidak akan berhasil mencapai tujuannya melalui tekanan ekonomi terhadap Teheran. Pernyataan itu disampaikan beberapa hari setelah pemerintahan Presiden Donald Trump meluncurkan gelombang baru sanksi yang menargetkan perekonomian Iran.
Pezeshkian menyampaikan sikap tersebut dalam pertemuan selama tiga jam di Bank Sentral Iran di Teheran, Selasa. Pertemuan dihadiri Menteri Ekonomi Ali Madanizadeh, Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati, serta sejumlah ekonom.
Pertemuan membahas kondisi moneter, nilai tukar, dan indikator keuangan Iran di tengah situasi yang disebut pemerintah sebagai dampak perang, blokade ekonomi, dan tekanan eksternal.
Pezeshkian mengatakan pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mengendalikan ekspektasi inflasi. Menurutnya, pengelolaan pasar strategis, terutama pasar valuta asing dan moneter, membutuhkan koordinasi erat antara pemerintah, bank sentral, dan lembaga ekonomi lainnya.
“Pendekatan kami adalah memahami dan menyelesaikan masalah melalui interaksi dan negosiasi, tetapi pada saat yang sama, kami telah dan akan terus berdiri teguh menghadapi tekanan ekonomi,” kata Pezeshkian.
Pezeshkian menegaskan Iran tetap membuka ruang untuk dialog dan perundingan dalam menyelesaikan persoalan dengan pihak lain.
Namun, ia mengatakan sikap terbuka tersebut tidak berarti Teheran akan menerima tekanan ekonomi yang diberlakukan Washington.
Menurut Pezeshkian, Amerika Serikat juga gagal mencapai tujuannya dalam perang karena perlawanan angkatan bersenjata Iran dan dukungan masyarakat. Ia menilai tekanan ekonomi tidak akan menghasilkan tujuan yang diinginkan Washington.
“Amerika Serikat tidak akan mendapatkan apa-apa” dari tekanan ekonomi, kata Pezeshkian, sebagaimana disampaikan dalam pernyataannya.
Pernyataan Presiden Iran tersebut muncul setelah pemerintahan Trump pada Senin meluncurkan Operation Economic Outcast, sebuah kampanye sanksi baru yang ditujukan untuk semakin mengisolasi Iran dari sistem keuangan global.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan sanksi tersebut menyasar sejumlah sektor penting ekonomi Iran, termasuk penerbangan, pelayaran, emas, teknologi, dan aset digital.
Lebih dari 60 entitas, individu, dan kapal dimasukkan ke dalam daftar hitam sebagai bagian dari kebijakan tersebut.
Bessent mengatakan tujuan Washington adalah memutus jalur ekonomi yang menopang pemerintah Iran. Ia menggambarkan strategi tersebut sebagai upaya melakukan “economic asphyxiation” atau pencekikan ekonomi terhadap pemerintah Iran.
Kebijakan baru AS itu menambah tekanan terhadap perekonomian Iran yang sebelumnya telah menghadapi berbagai sanksi dan pembatasan perdagangan. (*)
SUmber: Anadolu