• Oase

Mengapa Rasulullah Melarang Mencela Makanan?

Anggoro Aristo Priambodo | Sabtu, 15/08/2026 12:04 WIB
Mengapa Rasulullah Melarang Mencela Makanan? Ilustrasi foto mencela makanan

Katakini.com - Islam mengajarkan setiap pemeluknya untuk senantiasa menghormati dan bersyukur atas setiap rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.

Salah satu adab penting yang sering kali diabaikan dalam kehidupan sehari-hari adalah larangan keras untuk mencela makanan.

Allah SWT mengingatkan pentingnya bersyukur atas nikmat-Nya sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ibrahim ayat 7: "Lain syakartum la-aziidannakum wa lain kafartum inna `adzaabii lasyadiid" (Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu).

Mencela makanan yang dihidangkan termasuk ke dalam bentuk ingkar terhadap nikmat rezeki yang telah Allah karuniakan.

Teladan utama kita, Nabi Muhammad SAW, memberikan contoh yang sangat mulia dalam menyikapi hidangan makanan.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah RA menegaskan: "Nabi SAW tidak pernah mencela makanan sama sekali."

Hadits tersebut melanjutkan bahwa jika beliau menyukai makanan tersebut maka beliau memakannya, dan jika tidak suka maka beliau meninggalkannya tanpa mencelanya.

Sikap diam dan tidak mencela saat tidak menyukai makanan menunjukkan tingginya akhlak dan kemuliaan budi pekerti Rasulullah SAW.

Makanan merupakan rezeki yang diproses melalui perjuangan panjang banyak orang, mulai dari petani, pedagang, hingga orang yang memsak di dapur.

Ketika seseorang mencela makanan, tindakan tersebut secara tidak langsung dapat melukai perasaan orang yang telah bersusah payah menyajikannya.

Secara keimanan, mencela hidangan seolah-olah mempertanyakan ketersediaan dan kualitas rezeki yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta.

Allah SWT juga mengingatkan manusia untuk memperhatikan makanan yang dikonsumsinya sebagaimana termaktub dalam Surah Abasa ayat 24: "Fal yanzhuril-insaanu ilaa tha`aamih" (Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya).

Memperhatikan makanan berarti menghayati proses keberadaannya serta menikmati setiap suapan dengan penuh rasa hormat dan syukur.

Jika suatu makanan memang tidak cocok dengan selera atau kondisi kesehatan, cukuplah menolaknya secara halus tanpa mengeluarkan kata-kata yang merendahkan.

Dengan membiasakan diri untuk tidak mencela makanan, kita sedang meneladani sunnah Nabi sekaligus merawat rasa syukur di dalam hati.