Asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel yang menargetkan wilayah di kota Nabatieh, Lebanon selatan, pada 11 April 2026 (Foto: Abbas Fakih/AFP)
JAKARTA - Pemulihan dan rekonstruksi pascaperang di Lebanon akan memerlukan biaya lebih dari 20 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp18.041), menurut penilaian kebijakan yang dirilis pada Jumat (17/7) oleh Pusat Riset dan Studi Kebijakan Arab yang berbasis di Beirut.
Laporan tersebut memperkirakan adanya kerusakan fisik senilai 6,8 miliar dolar AS dan kerugian ekonomi sebesar 7,2 miliar dolar AS, dengan total kerugian langsung dan tidak langsung melebihi 65 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Lebanon.
Kolapsnya keuangan Lebanon pada 2019 membuat pemerintah sebagian besar tidak mampu membiayai rekonstruksi melalui cara-cara tradisional, sehingga negara itu menjadi sangat bergantung pada hibah dan pinjaman internasional yang terikat dengan reformasi keuangan, administratif, dan institusional yang lama tertunda, papar laporan tersebut.
Menteri Keuangan Lebanon Yassin Jaber menyatakan sekitar 200 juta dolar AS tersedia sebagai pendanaan domestik untuk memenuhi kebutuhan darurat pascaperang, meskipun laporan itu menyebutkan bahwa jumlah tersebut hanya mewakili sebagian kecil dari kebutuhan aktual Lebanon dan terutama ditujukan untuk membantu menarik pendanaan internasional yang lebih besar.
Laporan itu menyebutkan bahwa tantangan rekonstruksi Lebanon tidak hanya terletak pada upaya memperoleh sumber daya keuangan, tetapi juga pada upaya untuk memastikan negara itu dapat mengelola dana yang tersedia secara efektif dan menyalurkannya ke pemulihan ekonomi yang berkelanjutan, alih-alih respons darurat jangka pendek.