Ilustrasi tidur di saat kerja. (FOTO: SHUTTERSTOCK)
Jakarta, Jurnas.com - Pernahkah Anda merasa energi mendadak merosot tajam dan mata terasa sangat berat sesaat setelah menghabiskan makanan? Fenomena ini dikenal dalam dunia medis sebagai postprandial somnolence, atau yang secara populer sering disebut dengan istilah food coma.
Banyak orang keliru menganggap rasa kantuk ini sebagai tanda bahwa tubuh sedang malas. Padahal, secara biologis, mengantuk setelah makan adalah respons tubuh yang sepenuhnya normal dan melibatkan dinamika sistem saraf, hormon, serta aliran darah.
Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ini beberapa penyebab utama di balik munculnya rasa kantuk setelah makan:
1. Pergeseran Aliran Darah ke Sistem Pencernaan
Ketika makanan masuk ke dalam lambung, tubuh akan mengaktifkan sistem saraf parasimpatik (parasympathetic nervous system), yang sering disebut sebagai sistem "rest and digest" (istirahat dan cerna).
Untuk mendukung proses pembongkaran zat makanan, tubuh secara otomatis mengalihkan sebagian volume aliran darah menuju saluran pencernaan (lambung dan usus halus).
Akibatnya, aliran darah dan oksigen yang menuju ke otak mengalami sedikit penurunan sementara. Hal inilah yang memicu munculnya rasa lemas, rileks, dan kantuk.
2. Lonjakan Gula Darah dan Peran Hormon Insulin
Jenis makanan yang kita konsumsi sangat memengaruhi tingkat kantuk. Makanan yang kaya akan karbohidrat sederhana (seperti nasi putih, roti, mie) dan gula memiliki indeks glikemik yang tinggi.
Saat mengonsumsi makanan tersebut, kadar glukosa dalam darah akan melonjak tajam. Sebagai respons, kelenjar pankreas melepaskan hormon insulin dalam jumlah besar untuk memindahkan glukosa ke dalam sel tubuh.
Lonjakan insulin yang cepat ini memicu penurunan kadar gula darah secara drastis (reactive hypoglycemia), yang meninggalkan rasa lelah dan kantuk pada tubuh.
3. Pengaruh Asam Amino Triptofan dan Serotonin
Konsumsi makanan tinggi karbohidrat yang dikombinasikan dengan protein (seperti daging ayam, telur, keju, atau kacang-kacangan) mempermudah asam amino bernama triptofan untuk masuk ke dalam otak.
Di dalam otak, triptofan diubah menjadi serotonin, sebuah neurotransmiter yang bertanggung jawab menciptakan rasa rileks dan bahagia. Selanjutnya, serotonin akan dikonversi menjadi melatonin, yaitu hormon utama yang mengatur siklus tidur manusia.
Peningkatan kadar melatonin inilah yang secara langsung mengirimkan sinyal ke otak bahwa sudah waktunya untuk tidur.
4. Aktivasi Sel Saraf Oreksin oleh Glukosa
Penelitian di bidang neurosains menunjukkan bahwa kadar glukosa yang tinggi setelah makan dapat menekan aktivitas sel-sel saraf di otak yang disebut neuron oreksin (atau hipokretin).
Neuron oreksin bertanggung jawab penuh untuk menjaga manusia tetap terjaga, waspada, dan penuh energi. Ketika neuron ini dihambat oleh keberadaan glukosa, tingkat kewaspadaan kita secara otomatis akan menurun drastis.