• Ototekno

AI berdampak Hampir 80 juta Pekerja di ASEAN

herwin | Rabu, 08/07/2026 22:11 WIB
AI berdampak Hampir 80 juta Pekerja di ASEAN Penggunaan teknologi AI pada perusahaan akan berdampak pada pekerja

Jakarta- Sebuah studi terbaru dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengungkapkan bahwa akal imitasi generatif (GenAI) diperkirakan akan memengaruhi kehidupankerja hampir 80 juta orang di kawasan ASEAN.

Namun, hanya sebagian kecil yang menekuni pekerjaan dengan tingkat paparan tertinggi GenAI, dan hingga saat ini belum ada bukti terjadinya kehilangan pekerjaan dalam skala besar.

Laporan berjudul "Generative AI and labour markets in ASEAN: Significant exposure, limited disruption, uneven preparedness" mengkaji implikasi GenAI terhadap pekerjaan danpasar kerja di 11 negara anggota ASEAN dengan mempertimbangkan tingkat paparan pekerjaan terhadap GenAI serta pola adopsinya yang mulai berkembang.

Berdasarkan estimasi ILO untuk tahun 2025, 22,9 persen dari total pekerja di ASEAN—setara dengan hampir 80 juta pekerja—berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadapGenAI di atas tingkat minimal.

Namun, hanya 3,3 persen dari angkatan kerja, atau sekitar 11,7 juta pekerja, yang bekerja pada kategori pekerjaan dengan tingkat paparan tertinggi. Sementara sekitar 67 persen pekerja masih berada pada pekerjaan yang tidak teridentifikasimemiliki paparan terhadap GenAI.

Di antara sembilan negara ASEAN yang memiliki ketersediaan data, Singapura mencatat proporsi tertinggi pekerja dengan tingkat paparan terhadap GenAI di atas tingkat minimal, yakni42,2 persen dari total pekerja.

Disusul oleh Filipina (28,1 persen), yang mencerminkan struktur ekonominya yang relatif berorientasi pada sektor jasa dan teknologi informasi; Indonesia (21,7 persen); Vietnam (20,8 persen); dan Thailand (20,6 persen).

Laporan tersebut juga mencatat bahwa jumlah pekerja pada pekerjaan dengan tingkat paparan tinggi terhadap GenAI terus meningkat di kawasan ASEAN. Namun demikian, laporan menegaskanbahwa "potensi terjadinya transformasi pasar kerja memang signifikan, tetapi gangguan besar terhadap lapangan kerja belum terlihat."

Adopsi GenAI di kawasan ini masih berada pada tahap awal dan berlangsung secara tidak merata. Pemanfaatannya saat ini lebih banyak terkonsentrasi pada pekerjaan yang intensif teknologi,sementara penggunaannya di pekerjaan administrasi dan perkantoran—kendati memiliki tingkat paparan yang tinggi—masih relatif terbatas.

Laporan ini juga menunjukkan bahwa pekerja muda (usia 15–24 tahun) dan pekerja dewasa memiliki tingkat paparan terhadap GenAI yang relatif serupa. Namun demikian, terdapat kesenjangangender yang cukup besar.

Perempuan memiliki kemungkinan lebih dari dua kali lipat dibandingkan laki-laki untuk bekerja pada pekerjaan dengan tingkat paparan tinggi terhadap GenAI. Ini mencerminkan tingginya konsentrasi perempuan pada pekerjaan administratif,kesekretariatan dan profesi profesional.

Studi ini juga mengidentifikasi adanya kesenjangan kesiapan (preparedness gap) yang cukup lebar di kawasan ini. Singapura menjadi contoh ekosistem AI yang sangat kompetitifsecara global berkat kombinasi infrastruktur digital yang maju, ketersediaan talenta yang kuat serta pendekatan pemerintah secara menyeluruh dalam implementasi strategi AI.

Untuk memastikan inovasi AI mampu meningkatkan produktivitas, menciptakan pekerjaan yang berkualitas serta memberikan manfaat yang inklusif dan merata di seluruh ASEAN, laporan ini menggarisbawahi sejumlah prioritas regional.

Prioritas tersebut meliputi tata kelola AI yang berpusat pada manusia, pengembangan keterampilan yang inklusif melalui perluasan program peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling)dengan perhatian khusus bagi perempuan dan kaum muda.

Juga dukungan bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) guna mengatasi hambatan dalam mengadopsi AI, serta penguatan pertukaran pengetahuan dan koordinasi pengembangan sumber daya manusia di antara negara-negaraanggota ASEAN.

"Memanfaatkan manfaat GenAI membutuhkan lebih dari sekadar akses terhadap teknologi," ujar Christian Viegelahn, Ekonom ILO sekaligus penulis utama laporan tersebut.

"Peningkatan produktivitasbergantung pada investasi dalam modal manusia dan perlindungan sosial. Pada akhirnya, masa depan pasar kerja akan lebih ditentukan oleh pilihan kebijakan yang membangun kesiapan dan ketahanan pekerja, perusahaan, serta institusi, dibandingkan hanya oleh tingkatpaparan terhadap AI semata."