Ilustrasi - kasus ebola di Kongo (Foto: AFP)
JAKARTA - Republik Demokratik (RD) Kongo kini tengah berjuang menghadapi eskalasi wabah Ebola yang kian mengkhawatirkan.
Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh otoritas kesehatan masyarakat setempat pada Jumat (26/6), negara itu telah mencatat sebanyak 1.203 kasus terkonfirmasi dengan angka kematian mencapai 321 jiwa sejak wabah resmi diumumkan pada pertengahan Mei lalu.
Dari data tersebut, tercatat 148 pasien dinyatakan telah pulih, sementara 419 pasien lainnya masih menjalani isolasi atau perawatan intensif di rumah sakit.
Selain kasus terkonfirmasi, otoritas medis juga tengah mengidentifikasi 265 kasus suspek, yang di dalamnya termasuk 77 kasus kematian.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, memberikan pembaruan mengenai situasi di lapangan melalui platform media sosial X pada Jumat.
Ia mengapresiasi perluasan jangkauan pelacakan kontak serta meningkatnya jumlah pasien yang berhasil sembuh. Namun, Tedros mengingatkan bahwa perjalanan untuk memutus rantai penularan ini masih sangat panjang.
"Perjuangan masih jauh dari selesai. Perang dan kerawanan masih memperlambat upaya penanganan wabah, dan ketidakpercayaan publik tetap menjadi tantangan utama," ujar Kepala WHO.
Upaya penanggulangan medis di lapangan saat ini terbentur oleh serangkaian kendala operasional yang pelik.
Di wilayah Ituri, kapasitas pusat perawatan dilaporkan sudah hampir mencapai batas maksimal (penuh). Selain itu, tingkat pelacakan kontak dekat sejauh ini masih berada di bawah target yang ditetapkan, yakni sebesar 95 persen.
Tantangan non-medis juga muncul dari sisi sosial, di mana petugas kesehatan kerap menghadapi penolakan dari masyarakat setempat terkait prosedur pengujian pascakematian (postmortem).
Laporan resmi otoritas kesehatan turut menggarisbawahi adanya krisis logistik yang akut di zona wabah.
RD Kongo saat ini mengalami kelangkaan stok obat-obatan penting serta alat pencegahan dan pengendalian infeksi. Negara ini juga tercatat masih kekurangan sekitar 20 pusat isolasi untuk menampung pasien.
Kondisi ini diperparah oleh tingginya mobilitas penduduk dan terbatasnya akses menuju wilayah-wilayah terdampak yang dikuasai oleh kelompok bersenjata.
Di sisi finansial, tim penanganan medis mengalami kekurangan dana operasional yang sangat besar, yakni sekitar 20 juta dolar AS atau setara dengan Rp358,8 miliar.
Sebagai informasi, gelombang wabah Ebola yang melanda RD Kongo saat ini didominasi oleh penularan virus Ebola spesies Bundibugyo, dan telah dideklarasikan secara resmi sebagai status darurat sejak 15 Mei lalu.