Dua anak Mohammad al-Badran, seorang pengungsi Suriah dari pinggiran selatan Beirut, di dalam tenda mereka, di sebuah kamp sementara untuk para pengungsi, di Beirut, Lebanon, pada 1 April 2026 (Foto: Raghed Waked/Reuters)
JAKARTA - Menyusul kabar mengenai kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, pengungsi mulai kembali ke rumah mereka di Lebanon selatan meskipun menghadapi berbagai tantangan, demikian disampaikan badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (16/6/2026).
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) mengungkapkan sejumlah keluarga secara berhati-hati mulai kembali ke komunitas asal mereka setelah pengumuman mengenai kesepakatan antara AS dan Iran pada Minggu (14/6), yang dilaporkan mencakup penghentian permusuhan di Lebanon.
Menurut otoritas Lebanon, jumlah pengungsi yang ditampung di tempat penampungan kolektif berkurang sekitar 10.000 orang dalam empat hari terakhir. Di Kegubernuran Selatan, sekitar 2.700 orang dilaporkan meninggalkan tempat penampungan kolektif pada Senin (15/6), ujar OCHA.
Namun, OCHA mengatakan masih belum jelas apakah pergerakan tersebut merupakan kunjungan sementara untuk memeriksa kondisi rumah mereka atau merupakan kepulangan permanen.
OCHA menambahkan bahwa insiden kekerasan di Lebanon selatan masih terus dilaporkan, yang memengaruhi kemampuan warga untuk bepergian dengan aman.
Otoritas Israel mengatakan pasukannya akan mempertahankan kehadiran militer tanpa batas waktu di wilayah yang mereka kuasai di Lebanon selatan terlepas dari kesepakatan AS-Iran.
Sementara itu, Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) pada Senin menyatakan pihaknya melihat adanya penurunan tingkat kekerasan serta aksi baku tembak di wilayah selatan negara tersebut.