• News

Era Quantum Warfare, Indonesia Harus Bangun Kedaulatan Teknologi dan Ketahanan Nasional

Aliyudin | Jum'at, 29/05/2026 07:27 WIB
Era Quantum Warfare, Indonesia Harus Bangun Kedaulatan Teknologi dan Ketahanan Nasional Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) Seskoal Laksamana Pertama (Laksma) TNI Salim, S.E., M.Phil., M.Tr.Opsla. Foto: Ist.

JAKARTA - Perang antara Iran melawan Israel, Amerika dan sekutunya yang sedang berkecamuk sebagai tanda bahwa Perang modern mengalami transformasi besar dari konflik konvensional menuju konflik multidomain yang semakin kompleks, tidak terlihat, dan berbasis teknologi tinggi. Dikenal dengan Quantum Warfare.

Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) Seskoal Laksamana Pertama (Laksma) TNI Salim, S.E., M.Phil., M.Tr.Opsla, menyarankan agar pemerintah Indonesia dalam menghadapi era Quantum Warfare adalah membangun kedaulatan teknologi dan ketahanan strategis nasional.

“Melalui penguatan artificial intelligence, cyber defense, quantum communication, maritime domain awareness, dan penguasaan data nasional secara terintegrasi,” kata Salim di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Salim mengatakan, evolusi perang dapat dipahami melalui tiga fase utama: Asymmetric Warfare, Hybrid Warfare, dan Quantum Warfare. Asymetric Warfare adalah bentuk peperangan ketika pihak yang lebih lemah menggunakan strategi non-konvensional untuk menghadapi kekuatan militer yang lebih superior. Karakter peperangan ini antara lain; gerilya, teroris, insurgency, serangan hit and run atau dengan cara lain jangan menyerang kekuatan lawan, serang kelemahannya. Contohnya Perang Vietnam, Taliban melawan AS, ISIS dan Piracy di Somalia.

Sedangkan Hybrid Warfare muncul ketika konflik tidak lagi hanya menggunakan kekuatan militer, tetapi menggabungkan seluruh instrumen kekuatan nasional, yang merupakan perpaduan kekuatan militer dan non militer. Karakter dalam peperangan ini antara lain Cyber warfare, Information warfare, Economic coercion, Maritime militia, Lawfare, Proxy conflict, Disinformasi dan Artificial intelligence surveillance, tujuan utamanya adalah menciptakan dominasi tanpa perang terbuka. Contohnya; Operasi Hibrid yang dilakukan Rusia, Grey zone di Laut China Selatan, Serangan Siber terhadap Infrastruktur dan tekanan terhadap ekonomi dan teknologi

“Fase kita saat ini juga memasuki era dominasi cerdas dan tak terlihat atau Quantum Warfare fase masa depan dengan peperangan berbasis antara lain quantum computing, artificial intelligence, autonomous systems, cyber-physical integration, cognitive warfare, dominasi ruang angkasa, dan autonomous underwater warfare,” ujarnya.

Ia menjelaskan, karakter peperangan pada fase sekarang dan masa mendatang antara lain: AI-driven battlefield, Quantum communication, Quantum radar, Autonomous swarm , Hypersonic weapons, Cognitive manipulation, Predictive warfare dan Real-time data fusion.

“Pemenang perang masa depan bukan yang memiliki militer terbesar, tetapi yang menguasai data, algoritma, dan kecerdasan strategis,” tegasnya.

Salim menegaskan, selain membangun kedaulatan teknologi dan ketahanan nasional, Indonesia juga tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi atau arena proxy competition negara besar, tetapi harus menjadi negara maritim yang mampu mengendalikan keamanan informasi, infrastruktur digital, serta kemampuan pengambilan keputusan strategis secara mandiri.

Kemudian Indonesia juga harus memperkuat diplomasi strategis, pendidikan teknologi tinggi, riset nasional, dan kolaborasi regional ASEAN agar mampu menghadapi perang masa depan yang tidak lagi hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga di ruang siber, ruang angkasa, bawah laut, dan ruang kognitif manusia.

“Karena perang masa depan mungkin tidak dimulai dengan rudal, tetapi dengan algoritma, gangguan siber, manipulasi kognitif, dan sistem otonom,” tuturnya.

“Khusus keamanan maritim masa depan kita membutuhkan adaptive governance, technological resilience, strategic diplomacy, serta kerja sama regional berbasis trust dan innovation,” pungkas Salim.