Erupsi Gunung Dukono (Foto: ANTARA)
JAKARTA - Gunung Dukono menjadi salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Gunung yang berada di Pulau Halmahera, Maluku Utara, itu hampir setiap hari memuntahkan abu vulkanik dan kerap menjadi perhatian masyarakat maupun wisatawan.
Namun di balik aktivitas vulkaniknya, nama `Dukono` ternyata menyimpan cerita dan sejarah yang menarik.
Berdasarkan sejumlah catatan sejarah dan sumber geologi, nama Dukono berasal dari bahasa masyarakat lokal di Halmahera Utara.
Dalam cerita tutur masyarakat setempat, kata `Dukono` dipercaya berkaitan dengan kondisi gunung yang sejak dahulu dikenal sering `bernapas` atau mengeluarkan asap dari kawahnya.
Beberapa sumber budaya lokal menyebut nama tersebut berasal dari gabungan kata dalam bahasa daerah yang merujuk pada gunung tua yang aktif dan disegani warga sekitar.
Gunung ini memang sudah lama dianggap sakral oleh masyarakat adat karena aktivitas erupsinya yang terus berlangsung selama ratusan tahun.
Menurut data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Dukono memiliki ketinggian sekitar 1.087 meter di atas permukaan laut dan termasuk gunung api tipe strato.
Aktivitas vulkaniknya tercatat hampir tidak pernah benar-benar berhenti sejak erupsi besar pada 1933.
Dalam sejarah lokal Halmahera, Gunung Dukono juga sering dikaitkan dengan kehidupan masyarakat sekitar.
Abu vulkanik dari gunung ini dipercaya membantu menyuburkan tanah untuk pertanian warga, meski di sisi lain juga membawa ancaman saat erupsi meningkat.
Selain dikenal aktif, Gunung Dukono menjadi salah satu destinasi favorit pendaki dan peneliti vulkanologi.
Pemandangan kawah yang terus mengeluarkan asap putih hingga abu vulkanik menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Halmahera Utara.
Hingga kini, asal usul nama Gunung Dukono masih banyak diceritakan secara turun-temurun oleh masyarakat adat setempat.
Cerita tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya Maluku Utara yang terus hidup berdampingan dengan alam vulkanik Halmahera.