Ilustrasi - nyamuk anopheles penyebab malaria (Foto: Pexels/Egor Kamelev)
JAKARTA - Peringatan Hari Malaria Sedunia yang jatuh setiap tanggal 25 April merupakan momentum global yang didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya penyakit malaria serta memperkuat komitmen internasional dalam upaya eliminasi.
Sejarah penetapan hari ini berawal dari inisiatif negara-negara di Afrika yang merayakan Hari Malaria Afrika sejak tahun 2001.
Namun, menyadari bahwa beban penyakit ini tidak hanya terkonsentrasi di satu benua melainkan menjadi tantangan kesehatan global, Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) dalam sidangnya yang ke-60 pada tahun 2007 secara resmi mengubah statusnya menjadi Hari Malaria Sedunia.
Keputusan tersebut diambil untuk memberikan kesempatan bagi institusi pendidikan, organisasi kesehatan, serta sektor swasta di seluruh dunia agar dapat berkolaborasi dalam menggalang dana dan dukungan teknis.
Sejak saat itu, setiap tahunnya organisasi kesehatan internasional menetapkan tema khusus yang fokus pada percepatan pencegahan, perluasan akses diagnosis, serta distribusi kelambu berinsektisida di wilayah-wilayah endemis.
Perjalanan sejarah ini menunjukkan pergeseran strategi dari sekadar penanganan kasus menjadi gerakan sistematis untuk memutus rantai penularan di tingkat akar rumput.
Di Indonesia, peringatan ini sering kali dikaitkan dengan upaya pemerintah dalam mencapai target eliminasi malaria secara bertahap di berbagai provinsi.
Sejarah mencatat bahwa perjuangan melawan malaria telah menjadi prioritas nasional sejak masa awal kemerdekaan, mengingat kondisi geografis Indonesia yang tropis sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles.
Melalui peringatan 25 April, berbagai pemangku kepentingan diingatkan kembali untuk memperkuat sistem surveilans dan memastikan ketersediaan obat-obatan antimalaria yang efektif hingga ke pelosok daerah.
Pada tahun 2026 ini, peringatan Hari Malaria Sedunia menyoroti pentingnya keadilan kesehatan dalam menjangkau populasi yang paling rentan, termasuk masyarakat di daerah terpencil dan kelompok marginal.
Sejarah panjang perjuangan melawan malaria mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi medis, tetapi juga pada konsistensi kebijakan dan partisipasi aktif masyarakat.
Dengan merefleksikan asal-usul peringatan ini, dunia diharapkan terus bersinergi hingga tujuan akhir, yakni bumi yang sepenuhnya bebas dari malaria, dapat tercapai dalam waktu dekat.