Direktur Literasi Politik Indonesia (LPI), Ujang Komarudin. Foto: kwp/katakini
JAKARTA — Direktur Literasi Politik Indonesia (LPI), Ujang Komarudin, menegaskan bahwa Indonesia perlu memperkuat daya tahan nasional, terutama di sektor energi, pangan, serta stabilitas politik dan keamanan.
Demikian Ujang menyoroti meningkatnya eskalasi konflik global sebagai peringatan bagi Indonesia untuk bersiap dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Memperkuat Kedaulatan Bangsa di Era Dinamika Persaingan Global” yang digelar Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bersama Biro Pemberitaan DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Ia menggambarkan kondisi dunia saat ini penuh ketidakpastian, merujuk pada berbagai konflik yang terjadi di sejumlah kawasan, mulai dari Timur Tengah hingga Asia. Situasi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kekuatan global masih didominasi oleh negara-negara besar yang cenderung memaksakan kehendaknya.
“Dalam sejarah, yang kuat akan berbuat sesuai kemampuannya, sementara yang lemah akan menerima konsekuensinya. Ini realitas geopolitik yang tidak bisa dihindari,” ujar Ujang.
Ujang juga menyinggung perubahan konstelasi global, termasuk mulai berkurangnya dominasi Barat dan munculnya kekuatan baru seperti China. Meski demikian, ia menekankan bahwa fokus utama Indonesia seharusnya bukan pada rivalitas global, melainkan pada kesiapan internal bangsa.
Menurut dia, ketahanan energi menjadi salah satu faktor krusial yang harus diperkuat. Ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM) dinilai masih menjadi tantangan, sehingga pembangunan infrastruktur seperti kilang minyak dan cadangan energi nasional perlu dipercepat.
Di sisi lain, ia mengapresiasi langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan energi di tengah gejolak global.
“Kita harus akui, dalam situasi sulit sekalipun, Indonesia relatif mampu menjaga stabilitas energi. Ini menunjukkan daya tahan yang cukup baik,” katanya.
Selain energi, Ujang menekankan pentingnya ketahanan pangan sebagai fondasi utama negara. Ia mengingatkan bahwa dalam kondisi apa pun, termasuk konflik, ketersediaan pangan menjadi faktor penentu keberlangsungan kehidupan masyarakat.
“Dengan jumlah penduduk yang besar, jika pasokan pangan terganggu, dampaknya akan sangat serius. Karena itu, swasembada pangan harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ujang menilai stabilitas politik dan keamanan merupakan kunci utama dalam menjaga ketahanan nasional. Ia mengingatkan agar semua pihak tidak memicu konflik yang dapat mengganggu stabilitas dalam negeri.
“Kalau stabilitas politik dan keamanan terjaga, sektor lain akan ikut stabil. Tapi jika terguncang, semuanya akan terdampak,” kata dia.
Dalam kesempatan itu, Ujang juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi sebagai bagian dari kedaulatan bangsa. Ia mempertanyakan mengapa Indonesia, dengan sumber daya manusia yang dinilai mumpuni, belum mampu bersaing secara global dalam pengembangan teknologi.
Menurutnya, banyak talenta Indonesia yang memiliki kemampuan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, namun belum terintegrasi secara optimal untuk mendorong kemajuan teknologi nasional.
Selain itu, ia menekankan bahwa ketahanan budaya juga tidak kalah penting dalam menjaga identitas dan keberlangsungan bangsa di tengah arus globalisasi.
Ujang menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa meski masih banyak pekerjaan rumah, upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas nasional patut diapresiasi. Ia berharap Indonesia tetap berada pada jalur yang tepat dalam menghadapi tantangan global.
“Ketahanan bangsa bukan hanya soal bertahan, tapi juga bagaimana memastikan keberlanjutan dan kedaulatan di masa depan,” tuturnya.